*117 Siswa Resmi Terdaftar
TEGALWARU, Suara Karawang - Target 120 siswa yang ditetapkan dinas pendidikan terhadap SMAN 1 Tegalwaru untuk tahun ajaran 2014 ini berhasil tercapai. Sebanyak 117 dinyatakan terdaftar melakukan pendaftaran ulang untuk mengisi tiga ruas kelas yang disediakan sekolah yang belum lagi seumur jagung tersebut.
Pencapaian target atau kuota itu diakui ketua penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN 1 Tegalwaru, Endas Sutisna SPd., kemarin. �Jumlah siswa yang mengikuti masa orientasi sekolah (Mos) mencapai 117 siswa. Jumlah itu sudah sesuai kuota yang diberikan oleh Diknas yaitu 120 siswa atau setara dengan tiga kelas," katanya.
Endas mengatakan itu disela-sela penyelenggaraan Mos dan sekaligus menunggu siswa yang sudah daftar untuk kembali melakukan daftar ulang. Hanya saja panitia MOS dalam kegiatan tersebut masih dibantu siswa kelas 11 dan 12 SMAN 1 Pangkalan, karena merupakan induk dari SMAN 1 Tegalwaru. Bahkan dalam pelaksanaan MOS itu sudah menggunakan pendekatan kurikulum 2013, dengan harapan agar dalam pembelajarannya nanti para siswa sudah mulai adaptasi dengan kurikulum tersebut.
Melalui pencapai kuota siswa tersebut bisa dibilang untuk sekolah yang baru berdiri dengan kelas barunya dapat dikatakan sukses, karena sesuai dengan yang ditargetkan. Panitia PPDB inipun menuturkan untuk sementara lokasi proses belajar mengajar menggunakan gedung SDN Cintawargi 1. Kalaupun sebelumnya tergulir akan menggunakan gedung SMP PGRI Pangkalan, namun karena di SMP tersebut masih ada jam belajar siang. Semantara SMA inipun proses belajar mengajarnya menggunakan jam siang.
Selain sama-sama menggunakan jam belajar siang hari, hal lain yang jadi perbedaan adalah metode dan proses belajar mengajarnya. �Sudah barang tentu segala sesuatunya ada perbedaan. Baik secara psikologi maupun motoda dan sistemnya ada perbedaan. Hingga untuk sementara sebelum memiliki gedung secara mandiri, kalaupun secara teknis ukuran kelas dan bangkunya berbeda, proses belajar mengajar akan dilaksanakan di gedung SDN Cintawargi 1," ucapnya.
Dengan demikian menurut Endas yang juga merupakan pengajar di SMAN 1 Pangkalan. Dia berharap dengan adanya SMA di Tegalwaru akan menjadikan dunia pendidikan yang lebih baik lagi, hingga memberikan kontribusi bermakna pada bangsa dan Negara ini. Tak hanya itu Dia juga berharap dengan siswa tiga kelas tersebut semuanya mempunyai minat belajar yang tinggi, serta mempunyai dukungan dari seluruh lapisan masyaSuara Karawangt.
Sementara Awanudin (15) siswa baru angkatan pertama SMAN 1 Tegalwaru ketika dimintai komentarnya mengenai sebagai siswa disekolah tersebut mengaku dirinya merasa bangga menjadi peserta MOS SMAN 1 Tegalwaru. Dia berharap disekolah itu nantinya bisa mengukir prestasi. Sehingga nantinya SMAN 1 Tegalwaru bisa cepat dikenal diseantero Karawang. "Saya akan mengikuti semua apa yang disampaikan oleh para panatia. Selain itu saya juga akan terus belajar untuk memperbaiki prestasi. Semoga kehadiran kami nanti sebagai siswa-siswi SMAN 1 Tegalwaru bisa menjadi kebanggaan bagi sekolah kami," ucapnya. (ark)
Tampilkan postingan dengan label Pangkalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangkalan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Juli 2014
Metode MOS Mengacu Kepada Kurikulum 2013
TEGALWARU, Suara Karawang - Untuk metode masa orientasi sekolah (Mos) yang diterapkan di SMAN 1 Tegalwaru tidak jauh beda dengan yang diterapkan di SMAN 1 Pangkalan. Kendati dalam prakteknya ada sedikit perbedaan yaitu menyesuaikan dengan kurikulum 1013 namun tetap ditujukan demi suksesnya kegiatan MOS yang digelar.
Hal itu diungkapkan ketua pelaksana Mos SMAN 1 Tegalwaru, Abdul Kosim (17) yang juga siswa SMAN 1 Pangkalan. "Meski ada penyesuaian kurikulum namun dalam pelaksanaannya tujuannya tetap satu yakni kewajiban untuk mengarahkan peserta Mos agar aktif dalam setiap season kegiatan yang diselenggaSuara Karawangn panitia MOS," ujarnya.
Malah menurutnya panitia pelaksana dituntut harus seperti pengajar, dengan dapat mengarahkan perserta, memotivasi peserta, dan juga harus bisa menjadi fasilitator bagi peserta. Hingga dengan demikian peserta itu sendiri menurut Panitia tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dan jika kepercayaan diri tersebut sudah ada, maka potendi diri siswa itu sendiri akan bermunculan dengan sendirinya.
Tinggal sejauhmana pihak sekolah mengarahkan pada siswa untuk lebih bermanfaat. Panitia inipun menerangkan bahwa pelaksanaan Mos itu sendiri dilakukan dimulai sejak Selasa (15/7). Karena menurutnya bahwa yang awalnya proses belajar mengajar akan dilakukan di SMP PGRI, hingga ada sebagian siswa datang terlambat. "Panitia menilai dengan keterbatasan yang dimiliki hari selasa itu dinilai akan efektif untuk melaksanakan MOS. Namun untuk dihari Senin (14/7) tetap dilakukan, tetapi lebih kepada persiapan atau komunikasi awal dengan peserta," jelas Abdul. (ark)
Hal itu diungkapkan ketua pelaksana Mos SMAN 1 Tegalwaru, Abdul Kosim (17) yang juga siswa SMAN 1 Pangkalan. "Meski ada penyesuaian kurikulum namun dalam pelaksanaannya tujuannya tetap satu yakni kewajiban untuk mengarahkan peserta Mos agar aktif dalam setiap season kegiatan yang diselenggaSuara Karawangn panitia MOS," ujarnya.
Malah menurutnya panitia pelaksana dituntut harus seperti pengajar, dengan dapat mengarahkan perserta, memotivasi peserta, dan juga harus bisa menjadi fasilitator bagi peserta. Hingga dengan demikian peserta itu sendiri menurut Panitia tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dan jika kepercayaan diri tersebut sudah ada, maka potendi diri siswa itu sendiri akan bermunculan dengan sendirinya.
Tinggal sejauhmana pihak sekolah mengarahkan pada siswa untuk lebih bermanfaat. Panitia inipun menerangkan bahwa pelaksanaan Mos itu sendiri dilakukan dimulai sejak Selasa (15/7). Karena menurutnya bahwa yang awalnya proses belajar mengajar akan dilakukan di SMP PGRI, hingga ada sebagian siswa datang terlambat. "Panitia menilai dengan keterbatasan yang dimiliki hari selasa itu dinilai akan efektif untuk melaksanakan MOS. Namun untuk dihari Senin (14/7) tetap dilakukan, tetapi lebih kepada persiapan atau komunikasi awal dengan peserta," jelas Abdul. (ark)
Marching Band Gita Buana akan Pertahankan Piala Bergilir Menpora
TEGALWARU, Suara Karawang - Piala bergilir Menteri Pendidikan dan Olah Raga (Menpora) untuk jenis perlombaan marching band akan kembali diperebutkan pada 10 Nopember mendatang. Saat ini piala tersebut masih berada di SMP PGRI Pangkalan setelah marching band Gita Buana sekolah tersebut menjadi juara sejak 9 Nopember 2013 lalu.
Kepala Sekolah SMP PGRI Pangkalan, Drs H Ujang Sahro Widodo MPd, saat dikonfirmasi, kemarin, dikantornya menyampaikan, jika dilihat secara psikologi sebenarnya lebih berat mempertahankan ketimban merebut. "Bebannya yang berbeda. Ketika merebutnya dulu kami tanpa beban sekarang kami harus mempertahankannya," ujarnya.
Menurut Ujang saat itu merupakan baru kali pertama mengikuti even kejuaraan nasional memperebutkan piala Menpora. Ternyata diluar dugaan dapat meraih juara pertama. Padahal jika saja dilihat dari peralatan dan asal sekolah pesaing pada waktu itu, yang namanya tingkat nasional jelas jauh lebih canggih. Namun kepala sekolah SMP PGRI ini merasa sangat berbeda ketika saat akan menjelang kembali berlomba.
Menurutnya ada beberapa hal untuk saat ini menjadikan merasa mempunyai beban diantaranya, mempunyai beban untuk mempertahankan piala bergilir tersebut. "Masakan datang ke Jakarta hanya untuk menghantarkan piala bergilir saja, kan tidak lucu, tandas H Ujang. Hingga untuk mempersiapkan menjelang perlombaan tersebut kalaupun masih empat bulan mendatang, kepala sekolah sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik menambah peralatan maupun sudah mulai berlatih secara intensif," ucapnya.
Ujang berharap kepada siswanya yang tergabung dalam ekstrakulikuler marching band Gita Buana dapat mengikuti latihan sesuai program secara serius. Kalaupun latihannya sendiri setiap usai sekolah, maka salah satu konsekuensinya bagi siswa yang rumahnya agak jauh, maka setiap pulang sampai dirumahnya setelah magrib atau isya. Hingga selain itupun kepala sekolah ini berharap agar dari para orang tua tersebut senantiasa untuk mendukung dan dapat memakluminya. Dia juga optimis jika saja dukungan ini ada dari semua lapisan masyaSuara Karawangt dan dari semua unsure.
Tak hanya itu untuk dapat mempertahankan agar trophy bergilir tersebut tetap ada di karawang, maka kepala sekolah ini berharap ada perhatiannya dari pemerintah Karawang sendiri. Tentunya kepala SMP PGRI ini berharap pemerintah kabupaten Karawang dapat mendukung baik moril maupun materil. Sebab dari semua perjuangan baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan, akan merasa percuma atau tidak ada artinya jika tidak ada dukungan dari pemerintahannya itu sendiri.
Drs H Lasim Haryadi dari Dewan Pendidikan Karawang yang secara kebetulan sedang melakukan kunjungan di SMP PGRI Pangkalan, ketika diminta pendapatnya mengatakan bangga atas keberhasilan team marching band Gita Buana. Dirinya secara pribadi dan kelembagaan mendukung untuk dapat mempertahankan trophy tersebut. (ark)
Kepala Sekolah SMP PGRI Pangkalan, Drs H Ujang Sahro Widodo MPd, saat dikonfirmasi, kemarin, dikantornya menyampaikan, jika dilihat secara psikologi sebenarnya lebih berat mempertahankan ketimban merebut. "Bebannya yang berbeda. Ketika merebutnya dulu kami tanpa beban sekarang kami harus mempertahankannya," ujarnya.
Menurut Ujang saat itu merupakan baru kali pertama mengikuti even kejuaraan nasional memperebutkan piala Menpora. Ternyata diluar dugaan dapat meraih juara pertama. Padahal jika saja dilihat dari peralatan dan asal sekolah pesaing pada waktu itu, yang namanya tingkat nasional jelas jauh lebih canggih. Namun kepala sekolah SMP PGRI ini merasa sangat berbeda ketika saat akan menjelang kembali berlomba.
Menurutnya ada beberapa hal untuk saat ini menjadikan merasa mempunyai beban diantaranya, mempunyai beban untuk mempertahankan piala bergilir tersebut. "Masakan datang ke Jakarta hanya untuk menghantarkan piala bergilir saja, kan tidak lucu, tandas H Ujang. Hingga untuk mempersiapkan menjelang perlombaan tersebut kalaupun masih empat bulan mendatang, kepala sekolah sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik menambah peralatan maupun sudah mulai berlatih secara intensif," ucapnya.
Ujang berharap kepada siswanya yang tergabung dalam ekstrakulikuler marching band Gita Buana dapat mengikuti latihan sesuai program secara serius. Kalaupun latihannya sendiri setiap usai sekolah, maka salah satu konsekuensinya bagi siswa yang rumahnya agak jauh, maka setiap pulang sampai dirumahnya setelah magrib atau isya. Hingga selain itupun kepala sekolah ini berharap agar dari para orang tua tersebut senantiasa untuk mendukung dan dapat memakluminya. Dia juga optimis jika saja dukungan ini ada dari semua lapisan masyaSuara Karawangt dan dari semua unsure.
Tak hanya itu untuk dapat mempertahankan agar trophy bergilir tersebut tetap ada di karawang, maka kepala sekolah ini berharap ada perhatiannya dari pemerintah Karawang sendiri. Tentunya kepala SMP PGRI ini berharap pemerintah kabupaten Karawang dapat mendukung baik moril maupun materil. Sebab dari semua perjuangan baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan, akan merasa percuma atau tidak ada artinya jika tidak ada dukungan dari pemerintahannya itu sendiri.
Drs H Lasim Haryadi dari Dewan Pendidikan Karawang yang secara kebetulan sedang melakukan kunjungan di SMP PGRI Pangkalan, ketika diminta pendapatnya mengatakan bangga atas keberhasilan team marching band Gita Buana. Dirinya secara pribadi dan kelembagaan mendukung untuk dapat mempertahankan trophy tersebut. (ark)
Rabu, 02 Juli 2014
Daging Sapi di Pasar Loji Rp 120.000/kg
TEGALWARU, SK - Harga daging sapi di Pasar Loji, Kecamatan Tegalwaru menembus Rp 120.000/kg. Kenaikan harga yang tidak biasa itu terpicu lantaran tingginya permintaan daging sapi sebelum ramadan kemarin.
Seperti diungkapkan H. Encim (65), pedagang daging sapi di Pasar Loji, kemarin, harga daging sapi yang saat ini sudah mencapai Rp 120.000/kg, menjelang lebaran nanti ada kemungkinan akan lebih tinggi lagi. Menurut dia kencendrungan kenaikan harga tersebut merupakan hal yang logis karena kondisi pasar. "Saya tidak bisa memprediksi kenaikan harganya, tapi jika permintaan terhadap daging sapi oleh masyaSKt terus meningkat ya ada kemungkinan harganya naik lagi," ucapnya.
Namun sebaliknya kalaupun dengan harga rendah jika saja pembeli tidak menginginkannya maka tidak menutup kemungkinan harga dagingnya akan terus menurun. Meski begitu dijelaskan didalam setiap tahun antara sebelum ramadan dan saat lebaran harga daging sapi selalu lebih tinggi lebaran. Yang jelas H encim selaku pedagang baik harga tinggi atau rendah yang terpenting dalam usahanya dapat meraih keuntungan.
Sementara M. Muhtar (56) warga Kampung Cipeuteuy, Desa Mekarbuana, mengatakan untuk awal puasa saja sudah harga daging sapi sudah mencapai Rp 120.000, apalagi nanti menjelang lebaran akan lebih tinggi lagi. Karena, kata dia, jika mengingat kebiasaan tidak pernah ada harga daging itu lebih murah di hari lebaran. Artinya, jelas dia, harga daging itu selalu lebih mahal pada waktu menjelang lebaran.
Dia juga mengatakan daya beli masyaSKt untuk warga sebenarnya bukan karena kemampuan melainkan memaksakan, karena dipandang merupakan sebuah kebutuhan. Maka itu M Muhtar selaku warga mempunyai harapan untuk mengatasi harga ini tentunya pada pemerintah. Apakah harga tersebut merupakan harga resmi atau bukan, dan kalaupun bukan mungkin jangan sampai terlalu tinggi. Hal yang harus diingat setiap lebaran kebutuhan akan meningkat. Karenanya, pemerintah diharapkan melakukan pemantauan dan penetapan harga daging sapi di Pasar Loji. (ark)
Seperti diungkapkan H. Encim (65), pedagang daging sapi di Pasar Loji, kemarin, harga daging sapi yang saat ini sudah mencapai Rp 120.000/kg, menjelang lebaran nanti ada kemungkinan akan lebih tinggi lagi. Menurut dia kencendrungan kenaikan harga tersebut merupakan hal yang logis karena kondisi pasar. "Saya tidak bisa memprediksi kenaikan harganya, tapi jika permintaan terhadap daging sapi oleh masyaSKt terus meningkat ya ada kemungkinan harganya naik lagi," ucapnya.
Namun sebaliknya kalaupun dengan harga rendah jika saja pembeli tidak menginginkannya maka tidak menutup kemungkinan harga dagingnya akan terus menurun. Meski begitu dijelaskan didalam setiap tahun antara sebelum ramadan dan saat lebaran harga daging sapi selalu lebih tinggi lebaran. Yang jelas H encim selaku pedagang baik harga tinggi atau rendah yang terpenting dalam usahanya dapat meraih keuntungan.
Sementara M. Muhtar (56) warga Kampung Cipeuteuy, Desa Mekarbuana, mengatakan untuk awal puasa saja sudah harga daging sapi sudah mencapai Rp 120.000, apalagi nanti menjelang lebaran akan lebih tinggi lagi. Karena, kata dia, jika mengingat kebiasaan tidak pernah ada harga daging itu lebih murah di hari lebaran. Artinya, jelas dia, harga daging itu selalu lebih mahal pada waktu menjelang lebaran.
Dia juga mengatakan daya beli masyaSKt untuk warga sebenarnya bukan karena kemampuan melainkan memaksakan, karena dipandang merupakan sebuah kebutuhan. Maka itu M Muhtar selaku warga mempunyai harapan untuk mengatasi harga ini tentunya pada pemerintah. Apakah harga tersebut merupakan harga resmi atau bukan, dan kalaupun bukan mungkin jangan sampai terlalu tinggi. Hal yang harus diingat setiap lebaran kebutuhan akan meningkat. Karenanya, pemerintah diharapkan melakukan pemantauan dan penetapan harga daging sapi di Pasar Loji. (ark)
Pasar Tradisional Munjul Dioperasikan
TEGALWARU, SK - Kendati Pembangunan kios pasar tradisional Munjul di Kampung Munjul, Desa Cintalaksana, belum rampung, namun pedagang sudah memulai aktivitas berniaganya. Hal itu terjadi karena tingginya desakan masyaSKt yang ingin berbelanja ke pasar tersebut.
Ketua KUD Warga Sari Bhakti, Jaja Atmaja, terkait itu tidak menyangkal aktivitas jual beli di Pasar Muncul. �Sebenarnya pembangunan kios pasar ini seperti yang rencanakan dari awal sudah selesai di bulan Maret. Namun yang memboking kios itu sendiri melebihi kapasitas, selain itu lahanpun masih ada. Maka kamipun kembali membangun kios tambahan, kalaupun sebenarnya tidak dapat memenuhi semua peminat kios," ujar Jaja.
Seperti diketahui proyek pembangunan kios pasar tradisional Munjul dilakukan Koperasi Unit Desa (KUD) Warga Sari Bhakti. Jaja sendiri tidak dapat melarang pedagang akan membuka kios sejak sebelum ramadan kemarin. "Kami dan pengurus lainnya sepakat untuk mempersilahkan para pedagang mulai membuka atau melayani pembeli," akuinya.
Adapun untuk peresmiannya menurut rencana akan digelar setelah lebaran. Pihak pengembang berharap setelah lebaran nanti semua kios sudah selesai dibangun. Meski demikian untuk kios yang sudah selesai dan rapi, sudah dipersilahkan mulai beroperasional.
Disinggung mengenai antusias pelaku bisnis pasar di Tegalwaru, Jaja mengatakan, hal ini merupakan bukti Kalaupun ditengah-tengah marak dan trendnya pasar modern, pasar konvesional atau pasar tradisional tetap tidak bisa ditinggalkan. Hingga keberadaan pasar tersebut tetap ada dan terus bertambah, dan dipandang akan lebih kuat jika para pelaku pasar inipun bernaung dibawah koperasi yang bukan hanya mempunyai nilai kebersamaan, melainkan mempunyai orientasi pada pembinaan usaha.
Sementara itu, Sekretaris KUD Warga Sari Bhakti Ayi Ashari SKom., menerangkan jumlah kios yang dibangun mencapai 50 kios dari 20 kios dari yang direncanakan semula. Itu belum termasuk toilet dan kantor pengelola, selain 60 lapak untuk sayuran. "Yang lebih penting dalam realisasi pembangunan pasar ini adalah konsep yang kita tawarkan. Kita bukan hanya menyewakan kios pada pedagang saja, akan tetapi melakukan pembinaan. Artinya, kita juga akan membantu semua permasalahan pedagang yang menyangkut aktivitas perniagaannya," ucapnya.
Bahkan Ayi juga mengatakan dalam pengelolaannya mempunyai konsep yang dihubungkan dengan daerah wisata, hingga salah satu konsepnya untuk menawarkan produk ciri khas atau konsep oleh-oleh. Lebih dari itu selaku Sekretaris mempunyai gagasan untuk menyebarluaskan setiap produk yang dijual oleh pedagang di blow up dijaringan internet. Maka harapannya semuanya bisa terwujud jika semua pihak dapat mendukung dan melakukan sesuai dengan konsep kesepakatan. (ark)
Ketua KUD Warga Sari Bhakti, Jaja Atmaja, terkait itu tidak menyangkal aktivitas jual beli di Pasar Muncul. �Sebenarnya pembangunan kios pasar ini seperti yang rencanakan dari awal sudah selesai di bulan Maret. Namun yang memboking kios itu sendiri melebihi kapasitas, selain itu lahanpun masih ada. Maka kamipun kembali membangun kios tambahan, kalaupun sebenarnya tidak dapat memenuhi semua peminat kios," ujar Jaja.
Seperti diketahui proyek pembangunan kios pasar tradisional Munjul dilakukan Koperasi Unit Desa (KUD) Warga Sari Bhakti. Jaja sendiri tidak dapat melarang pedagang akan membuka kios sejak sebelum ramadan kemarin. "Kami dan pengurus lainnya sepakat untuk mempersilahkan para pedagang mulai membuka atau melayani pembeli," akuinya.
Adapun untuk peresmiannya menurut rencana akan digelar setelah lebaran. Pihak pengembang berharap setelah lebaran nanti semua kios sudah selesai dibangun. Meski demikian untuk kios yang sudah selesai dan rapi, sudah dipersilahkan mulai beroperasional.
Disinggung mengenai antusias pelaku bisnis pasar di Tegalwaru, Jaja mengatakan, hal ini merupakan bukti Kalaupun ditengah-tengah marak dan trendnya pasar modern, pasar konvesional atau pasar tradisional tetap tidak bisa ditinggalkan. Hingga keberadaan pasar tersebut tetap ada dan terus bertambah, dan dipandang akan lebih kuat jika para pelaku pasar inipun bernaung dibawah koperasi yang bukan hanya mempunyai nilai kebersamaan, melainkan mempunyai orientasi pada pembinaan usaha.
Sementara itu, Sekretaris KUD Warga Sari Bhakti Ayi Ashari SKom., menerangkan jumlah kios yang dibangun mencapai 50 kios dari 20 kios dari yang direncanakan semula. Itu belum termasuk toilet dan kantor pengelola, selain 60 lapak untuk sayuran. "Yang lebih penting dalam realisasi pembangunan pasar ini adalah konsep yang kita tawarkan. Kita bukan hanya menyewakan kios pada pedagang saja, akan tetapi melakukan pembinaan. Artinya, kita juga akan membantu semua permasalahan pedagang yang menyangkut aktivitas perniagaannya," ucapnya.
Bahkan Ayi juga mengatakan dalam pengelolaannya mempunyai konsep yang dihubungkan dengan daerah wisata, hingga salah satu konsepnya untuk menawarkan produk ciri khas atau konsep oleh-oleh. Lebih dari itu selaku Sekretaris mempunyai gagasan untuk menyebarluaskan setiap produk yang dijual oleh pedagang di blow up dijaringan internet. Maka harapannya semuanya bisa terwujud jika semua pihak dapat mendukung dan melakukan sesuai dengan konsep kesepakatan. (ark)
Selasa, 01 Juli 2014
Pemerintah Diminta Tegas Larang Truk Melintas
TEGALWARU, SK - Sampai saat ini pemerintah belum bisa bersikap tegas. Baik pemerintah kecamatan, kabupaten maupun pemerintah pusat. Hal itu terlihat dari pembiaran sepanjang ruas jalan kelas tiga Jalan Badami - Loji, hingga saat ini masih dilalui oleh truk-truk besar diatas 8 ton.
"Ketidaktegasan pemerintah setempat mulai dari pemerintah Kabupaten hingga desa dalam menerapkan aturannya sampai saat ini tidak berpihak kepada masyaSKt. Hal ini terbukti dari pembiaran penggunaan jalan oleh truk-truk besar yang mestinya tidak boleh melintas di atas jalan kelas tiga," ungkap pemerhati masalah jalan, Ambar, beberapa waktu lalu. Dia menilai kondisi seperti itu dibiarkan oleh pemerintah kabupaten.
Menurut Ambar, hingga saat ini belum ada penegakan aturan yang ditegakan oleh aparat. Sementara jika masyaSKt yang bergerak selalu merasa berbenturan dengan aparat itu sendiri yang merasa bertanggungjawab. Tetapi kenyataanya hingga kini tidak ada satu upayapun yang dilakukan untuk mengatasi permasalah tersebut. Padahal jika melihat kondisi jalan atau kelas jalan antara Badami-Loji (Tegalwaru) serta aturan yang berlaku jelas melanggar.
Apakah ini akan tetap dibiarkan, hal inilah yang jadi bahan pertanyaan masyaSKt setempat. Sementara mereka menilai apa yang terjadi saat ini jelas-jelas melanggar aturan. Telebih pelangaran itu sendiri menimbulkan dampak kerugian. "Bayangkan saja, jalan yang ada sekarang masih dibilang baru selesai dikerjakan tapi dimana-mana sudah terlihat kerusakan. Malah kerusakan terbaru terjadi di ruas Jalan Kampung Bunder jalan corannya amblas. Ironisnya, kondisi tersebut sepertinya sama sekali tidak mempengaruhi aktivitas kendaraan-kendaraan besar yang melintasi jalan tersebut," ucap Ambar.
Menyinggung ruas jalan yang diperbaiki belum lama ini, Ambar mengatakan, jalur Badami-Loji merupakan jalan kelas III. Jalan ini sering mengalami kerusakan karena tidak mampu menahan beban truk-truk yang melintas. Tidak heran jika ruas jalan inipun sering mengalami kerusakan dan sering pula mendapat perbaikan, seperti terjadi belum lama ini. Namun Ambar mengatakan, itupun yang diperbaikinya hanya sampai Pangkalan saja, artinya tidak seluruhnya ruas jalan di Pangkalan diperbaiki.
Lebih parah lagi diruas jalan Tegalwaru yang total tidak diperbaiki sebagaimana mestinya, hingga kelas jalan di Tegalwaru sendiri masuk pada kelas berapa. Sementara armada yang melintas di ruas jalan ini sama saja dengan di ruas jalan lainnya yang sama melanggar aturan juga. Keadaan ini juga menimbulkan pertanyaan bagi Ambar sekaligus mempertegas tidak berjalannya aturan yang dibuat. "Bukankah Teknis Dinas Perhubungan sudah menjelaskan bahwa jalan ini hanya dirancang untuk menahan Muatan Sumbu Terberat (MST) seberat 8 ton atau 8000 kg, jalan akan rusak ketika ada kendaraan dengan MST diatas 8 ton," jelas Ambar.
Ambar menambahkan, realita itulah yang terjadi di ruas jalan Badami - Loji. Kendaraan-kendaraan yang melintas diatasnya ternyata kendaraan-kendaraan berat dengan tonase diatas 8 ton. Karenanya, Ambar berharap pemerintah, baik kecamatan maupun kabupaten bisa bersikap tegas dan menegakan aturan di sepanjang ruas jalan itu. (ark)
"Ketidaktegasan pemerintah setempat mulai dari pemerintah Kabupaten hingga desa dalam menerapkan aturannya sampai saat ini tidak berpihak kepada masyaSKt. Hal ini terbukti dari pembiaran penggunaan jalan oleh truk-truk besar yang mestinya tidak boleh melintas di atas jalan kelas tiga," ungkap pemerhati masalah jalan, Ambar, beberapa waktu lalu. Dia menilai kondisi seperti itu dibiarkan oleh pemerintah kabupaten.
Menurut Ambar, hingga saat ini belum ada penegakan aturan yang ditegakan oleh aparat. Sementara jika masyaSKt yang bergerak selalu merasa berbenturan dengan aparat itu sendiri yang merasa bertanggungjawab. Tetapi kenyataanya hingga kini tidak ada satu upayapun yang dilakukan untuk mengatasi permasalah tersebut. Padahal jika melihat kondisi jalan atau kelas jalan antara Badami-Loji (Tegalwaru) serta aturan yang berlaku jelas melanggar.
Apakah ini akan tetap dibiarkan, hal inilah yang jadi bahan pertanyaan masyaSKt setempat. Sementara mereka menilai apa yang terjadi saat ini jelas-jelas melanggar aturan. Telebih pelangaran itu sendiri menimbulkan dampak kerugian. "Bayangkan saja, jalan yang ada sekarang masih dibilang baru selesai dikerjakan tapi dimana-mana sudah terlihat kerusakan. Malah kerusakan terbaru terjadi di ruas Jalan Kampung Bunder jalan corannya amblas. Ironisnya, kondisi tersebut sepertinya sama sekali tidak mempengaruhi aktivitas kendaraan-kendaraan besar yang melintasi jalan tersebut," ucap Ambar.
Menyinggung ruas jalan yang diperbaiki belum lama ini, Ambar mengatakan, jalur Badami-Loji merupakan jalan kelas III. Jalan ini sering mengalami kerusakan karena tidak mampu menahan beban truk-truk yang melintas. Tidak heran jika ruas jalan inipun sering mengalami kerusakan dan sering pula mendapat perbaikan, seperti terjadi belum lama ini. Namun Ambar mengatakan, itupun yang diperbaikinya hanya sampai Pangkalan saja, artinya tidak seluruhnya ruas jalan di Pangkalan diperbaiki.
Lebih parah lagi diruas jalan Tegalwaru yang total tidak diperbaiki sebagaimana mestinya, hingga kelas jalan di Tegalwaru sendiri masuk pada kelas berapa. Sementara armada yang melintas di ruas jalan ini sama saja dengan di ruas jalan lainnya yang sama melanggar aturan juga. Keadaan ini juga menimbulkan pertanyaan bagi Ambar sekaligus mempertegas tidak berjalannya aturan yang dibuat. "Bukankah Teknis Dinas Perhubungan sudah menjelaskan bahwa jalan ini hanya dirancang untuk menahan Muatan Sumbu Terberat (MST) seberat 8 ton atau 8000 kg, jalan akan rusak ketika ada kendaraan dengan MST diatas 8 ton," jelas Ambar.
Ambar menambahkan, realita itulah yang terjadi di ruas jalan Badami - Loji. Kendaraan-kendaraan yang melintas diatasnya ternyata kendaraan-kendaraan berat dengan tonase diatas 8 ton. Karenanya, Ambar berharap pemerintah, baik kecamatan maupun kabupaten bisa bersikap tegas dan menegakan aturan di sepanjang ruas jalan itu. (ark)
Libatkan MasyaSKt Menjaga Hutan
TEGALWARU, SK - Melestarikan lingkungan hidup bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu melibatkan masyaSKt. Kendati demikian, pemerintah harus tetap menjadi motivator. Artinya pemerintah diminta peka terhadap apa yang dibutuhkan lingkungan.
"Pemerintah harus bisa menjadi pelopor dan lebih peka terhadap lingkungan. Misalnya, jika ada laporan pengaduan dari masyaSKt tentang kerusakan lingkungan, pemerintah harus serius menanggapi," ucap anggota Keluarga Besar Cidoro di Desa Cigunungsari, Heru S.ST, beberapa waktu lalu.
Ditegasnnya, pemerintah harus terus menupayakan untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya, tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan. Selain mendesak agar secepatnya menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan. "Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama pembangunan berkelanjutan," ungkap Heru.
Sebagai keluarga Cidoro, Heru melihat kondisi lingkungan Gunung Goong dan sekelilingnya, mutlak harus dijaga dan diselamatkan. Sebab menurutnya Gunung Goong bukan hanya merupakan gunung semata, akan tetapi merupakan simbol perjuangan masyaSKt. Namun semua itu tidak bisa lepas dari peran pemerintah, karena pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup.
Dijelaskannya pula, bahwa kawasan ini harus mampu mengimbangi dari kerusakan lingkungan di tempat lain seperti banyaknya perusahaan yang benyak mengeluarkan asap hingga mencemari udara, maka salah satu filter dari polusi udara itu adalah kawasan gunung Goong tersebut. Sebagai warga negara yang baik, masyaSKt harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Secara gamlang Heru pun mengingatkan tentang pelestarian udara, sebab udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. "Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang, karena pembakaran ini terbawa jauh. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme," ucapnya. Karena itu, menurut dia, perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. (ark)
"Pemerintah harus bisa menjadi pelopor dan lebih peka terhadap lingkungan. Misalnya, jika ada laporan pengaduan dari masyaSKt tentang kerusakan lingkungan, pemerintah harus serius menanggapi," ucap anggota Keluarga Besar Cidoro di Desa Cigunungsari, Heru S.ST, beberapa waktu lalu.
Ditegasnnya, pemerintah harus terus menupayakan untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya, tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan. Selain mendesak agar secepatnya menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan. "Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama pembangunan berkelanjutan," ungkap Heru.
Sebagai keluarga Cidoro, Heru melihat kondisi lingkungan Gunung Goong dan sekelilingnya, mutlak harus dijaga dan diselamatkan. Sebab menurutnya Gunung Goong bukan hanya merupakan gunung semata, akan tetapi merupakan simbol perjuangan masyaSKt. Namun semua itu tidak bisa lepas dari peran pemerintah, karena pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup.
Dijelaskannya pula, bahwa kawasan ini harus mampu mengimbangi dari kerusakan lingkungan di tempat lain seperti banyaknya perusahaan yang benyak mengeluarkan asap hingga mencemari udara, maka salah satu filter dari polusi udara itu adalah kawasan gunung Goong tersebut. Sebagai warga negara yang baik, masyaSKt harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Secara gamlang Heru pun mengingatkan tentang pelestarian udara, sebab udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. "Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang, karena pembakaran ini terbawa jauh. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme," ucapnya. Karena itu, menurut dia, perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. (ark)
Senin, 30 Juni 2014
Target Partisipasi Pilpres 75 Persen
*Anggota KPPS Tingkat Desa Mengikuti Bintek
TEGALWARU, SK - Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tingkat desa seluruh kecamatan Tegalwaru mengikuti bimbingan teknik (Bintek). Hal itu terkait pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan diselenggaSKn pada 9 Juli mendatang. Sementara target partisipasi pilpres tahun ini diharapkan mencapai 75 % lebih.
Ketua Panitia Pemilu Kecamatan (PPK) Tegalwaru, Atang Komarudin, mengatakan itu akhir pekan (28/6) kemarin, usai melakukan bintek di ula kecamatan. �Sebenarnya rencana bintek ini digelar dimasing-masing desa. Namun setelah mengingat keterbatasan masing-masing desa, terlebih menjelang puasa KPPS sepakat untuk menggelar bintek di lakukan di aula kecamatan," ucapnya.
Ditambahkannya, pada dasarnya kalaupun digelar di desa masing-masing yang menjadi pematerinya tetap pihak PPK. Terlebih jika mengingat waktunya sudah masuk pada bulan Ramadhan. Namun menurut ketua PPK ini dalam pelaksanaannya, tetap dilakukan secara bergiliran. Dengan demikian menurutnya ternyata dengan dilakukan di aula kecamatan lebih efektif. Baik waktu, peralatan seperti infocus dan peralatan lainnya tidak harus dibongkar pasang, serta pemateri sendiri tidak harus mondar-mandir dari desa kesatu ke desa lainnya.
Atang berharap dengan pelaksanaan bintek tersebut para petugas KPPS dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik dan benar. Kalaupun secara sekilas pelaksanaannya akan lebih mudah. Namun dia juga mengingatkan bahwa dalam pelaksanaannya pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan lebih banyak. Sebab yang tadinya paling banyak hanya mencapai 500 pemilih untuk saat ini mencapai 800 pemilih.
Atang juga mengingatkan agar panitia dalam pelaksanaannya harus tetap berhati-hati. Karena jika saja semabarangan bisa jadi akan lama seperti pada waktu pileg. Terutama dalam permasalahan jumlah yang hadir, laki-laki perempuan, pemilih dari luar dan hal-hal lainnya. Hingga dalam bimbingan teknis ini peserta dari KPPS harus mengisi soal yang selanjutnya disesuaikan, karena agar pelaksana tersebut lebih memahami.
Jejejn Alami SPdI., (35) penanggung jawab teknis PPK Tegalwaru saat ditemui menerangkan, memang secara teknis dalam pelaksanaan Pilpres sepertinya akan lebih mudah. Namun pemilihnya bertambah, sebab dari jumlah TPS di perkecil namun pemilih secara otomatis akan bertambah. Adapun secara angka Jejen menyampaikan untuk daftar pemilih tetap (DPT) saat ini mencapai 28.333 pemilih dari sebelumnya hanya 27.898.
Semantara untuk TPSnya sendiri yang tadinya di satu kecamatan ini mencapai 66 TPS kini hanya 47 TPS. Hal tersebutpun salah satu penyebabnya karena untuk pemilih per TPS sendiri bertambah banyak. Tadinya maksimal 500 pemilih, semantara untuk saat ini mencapai 800 pemilih.
Karenanya, Jejen berharap adanya pemahaman yang baik dan akan menjadi lebihbaik daripada waktu pileg. Bahkan disampaikan juga pada waktu Pileg para panitia banyak kesalahan apakah karena kelelahan maupun tidak paham, yang jelas dalam pilpres hal tersebut diharpkan kembali terjadi. (ark)
TEGALWARU, SK - Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tingkat desa seluruh kecamatan Tegalwaru mengikuti bimbingan teknik (Bintek). Hal itu terkait pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan diselenggaSKn pada 9 Juli mendatang. Sementara target partisipasi pilpres tahun ini diharapkan mencapai 75 % lebih.
Ketua Panitia Pemilu Kecamatan (PPK) Tegalwaru, Atang Komarudin, mengatakan itu akhir pekan (28/6) kemarin, usai melakukan bintek di ula kecamatan. �Sebenarnya rencana bintek ini digelar dimasing-masing desa. Namun setelah mengingat keterbatasan masing-masing desa, terlebih menjelang puasa KPPS sepakat untuk menggelar bintek di lakukan di aula kecamatan," ucapnya.
Ditambahkannya, pada dasarnya kalaupun digelar di desa masing-masing yang menjadi pematerinya tetap pihak PPK. Terlebih jika mengingat waktunya sudah masuk pada bulan Ramadhan. Namun menurut ketua PPK ini dalam pelaksanaannya, tetap dilakukan secara bergiliran. Dengan demikian menurutnya ternyata dengan dilakukan di aula kecamatan lebih efektif. Baik waktu, peralatan seperti infocus dan peralatan lainnya tidak harus dibongkar pasang, serta pemateri sendiri tidak harus mondar-mandir dari desa kesatu ke desa lainnya.
Atang berharap dengan pelaksanaan bintek tersebut para petugas KPPS dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik dan benar. Kalaupun secara sekilas pelaksanaannya akan lebih mudah. Namun dia juga mengingatkan bahwa dalam pelaksanaannya pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan lebih banyak. Sebab yang tadinya paling banyak hanya mencapai 500 pemilih untuk saat ini mencapai 800 pemilih.
Atang juga mengingatkan agar panitia dalam pelaksanaannya harus tetap berhati-hati. Karena jika saja semabarangan bisa jadi akan lama seperti pada waktu pileg. Terutama dalam permasalahan jumlah yang hadir, laki-laki perempuan, pemilih dari luar dan hal-hal lainnya. Hingga dalam bimbingan teknis ini peserta dari KPPS harus mengisi soal yang selanjutnya disesuaikan, karena agar pelaksana tersebut lebih memahami.
Jejejn Alami SPdI., (35) penanggung jawab teknis PPK Tegalwaru saat ditemui menerangkan, memang secara teknis dalam pelaksanaan Pilpres sepertinya akan lebih mudah. Namun pemilihnya bertambah, sebab dari jumlah TPS di perkecil namun pemilih secara otomatis akan bertambah. Adapun secara angka Jejen menyampaikan untuk daftar pemilih tetap (DPT) saat ini mencapai 28.333 pemilih dari sebelumnya hanya 27.898.
Semantara untuk TPSnya sendiri yang tadinya di satu kecamatan ini mencapai 66 TPS kini hanya 47 TPS. Hal tersebutpun salah satu penyebabnya karena untuk pemilih per TPS sendiri bertambah banyak. Tadinya maksimal 500 pemilih, semantara untuk saat ini mencapai 800 pemilih.
Karenanya, Jejen berharap adanya pemahaman yang baik dan akan menjadi lebihbaik daripada waktu pileg. Bahkan disampaikan juga pada waktu Pileg para panitia banyak kesalahan apakah karena kelelahan maupun tidak paham, yang jelas dalam pilpres hal tersebut diharpkan kembali terjadi. (ark)
Jumat, 27 Juni 2014
Hapus LSM Musuh MasyaSKt
*Bupati Diminta Tegas
TEGALWARU, SK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang diminta tegas menegakan aturan di Kecamatan Tegalwaru. Termasuk merancang kebijakan bersama DPRD tentang aturan penambang yang tidak merusak lingkungan. Selama ini sistem pemerintahan di kabupaten ini dinilai lemah terhadap keinginan pengusaha.
Seperti diungkapkan Hendi Nurdian Hidayat, kemarin. Dia menyampaikan pernyataan melalui surat elektronik yang disampaikan lewat komentarnya dalam status 'Penolakan warga Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, terhadap aktivitas tambang di wilayahnya'. Status tersebut diketengahkan dalam facebook Kapling Rakyat.
Melalui status itu Hendi, menyampaikan kekecewaannya terhadap aksi sekelompok oknum anggota LSM yang menjadi beking pengusaha pertambangan liar batu andesit di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru. Oknum LSM itu merasa kecewa setelah warga memaksa pengusaha tambang menarik keluar Kobelco dan mesin pengebor batu dari lokasi pertambangan. Hingga berakhir terhadap penyerangan kepada warga. Sehingga menyulut emosi warga lainnya dan beramai-ramai membakar motor yang dikendarai pelaku penyerangan.
"Saya sebagai warga Desa Wargasetra mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten Karawang untuk membuat kebijakan yang seadil-adilnya terhadap kami di Wargasetra pada khususnya dan seluruh Karawang pada umumnya. Saya berharap pemerintah Karawang menindak tegas para cukong beserta semua beking yang menjadi kaki tangan pengusaha yang merugikan warga," ucapnya.
Tidak hanya itu, Hendi juga menambahkan, para cukong dan beking pengusaha itu melakukan aksi perusakan terhadap lingkungan. Mereka melakukan eksploitasi kekayaan alam dengan cara merusak. "Mereka bukan cuma merusak alam tetapi juga berbuat kasar terhadap kami. Kami ingin wilayah kami lestari," tegas Hendi.
Secara terpisah, Rhonank juga mengungkapkan hal senada. Hanya saja, dia lebih menyoroti peranan LSM yang seharusnya bisa mengayomi masyaSKt malah berulah sebaliknya. Dia amat menyesalkan aksi oknum LSM yang melakukan penyerangan terhadap warga Desa Wargasetra. "LSM harusnya membina warganya agar bisa memanfaatkn SDA dan SDM dgn tujuan kesejahteraan," tegasnya.
Rhonank sendiri merasa heran. Jika mengacu terhadap sejarah terbentuknya sebuah LSM sebagai lembaga penyampai aspirasi masyarkat, sudah tentu amat berbeda dengan sekarang. "LSM sekarang hanya sebagai alat kaum kapitalis, diadu dombakan, dimanfaatkan juga dijadikan beking dan bodygoard para pengusaha," ucapnya.
Sementara, Dadi Sugara justru lebih tegas lagi menyikapi aksi tidak bertanggung jawab oknum LSM yang melakukan penyerangan terhadap warga desa Wargasetra. Dia terang-terang menyatakan agar pemerintah kabupaten menghapus LSM yang tidak berpihak kepada masyaSKt. "Hapus LSM yang tidak berpihak ke masyaSKt. Jangan didiamkan saja," tegasnya.
Kendati begitu, Dadi tidak menampik jika untuk melakukan itu bukanlah hal mudah. Terlebih tidak sedikit LSM yang berdiri saat ini merupakan rentetan barisan dari pejabat atau penguasa tertentu. "Ganti bupati ganti LSM baru. Bukan makin berkurang malah bertambah. LSM yang tidak berpihak masyaSKt itu Preman berkedok LSM. Mereka bekerja untuk kepentingan segelintir kepentingan tanpa ada niat mensejahtSKn masyarkat. Bahkan sebaliknya malah menakut-nakuti dengan intimidasi kalau kepentingannya tidak terealisasi," ujarnya. (SK)
TEGALWARU, SK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang diminta tegas menegakan aturan di Kecamatan Tegalwaru. Termasuk merancang kebijakan bersama DPRD tentang aturan penambang yang tidak merusak lingkungan. Selama ini sistem pemerintahan di kabupaten ini dinilai lemah terhadap keinginan pengusaha.
Seperti diungkapkan Hendi Nurdian Hidayat, kemarin. Dia menyampaikan pernyataan melalui surat elektronik yang disampaikan lewat komentarnya dalam status 'Penolakan warga Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, terhadap aktivitas tambang di wilayahnya'. Status tersebut diketengahkan dalam facebook Kapling Rakyat.
Melalui status itu Hendi, menyampaikan kekecewaannya terhadap aksi sekelompok oknum anggota LSM yang menjadi beking pengusaha pertambangan liar batu andesit di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru. Oknum LSM itu merasa kecewa setelah warga memaksa pengusaha tambang menarik keluar Kobelco dan mesin pengebor batu dari lokasi pertambangan. Hingga berakhir terhadap penyerangan kepada warga. Sehingga menyulut emosi warga lainnya dan beramai-ramai membakar motor yang dikendarai pelaku penyerangan.
"Saya sebagai warga Desa Wargasetra mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten Karawang untuk membuat kebijakan yang seadil-adilnya terhadap kami di Wargasetra pada khususnya dan seluruh Karawang pada umumnya. Saya berharap pemerintah Karawang menindak tegas para cukong beserta semua beking yang menjadi kaki tangan pengusaha yang merugikan warga," ucapnya.
Tidak hanya itu, Hendi juga menambahkan, para cukong dan beking pengusaha itu melakukan aksi perusakan terhadap lingkungan. Mereka melakukan eksploitasi kekayaan alam dengan cara merusak. "Mereka bukan cuma merusak alam tetapi juga berbuat kasar terhadap kami. Kami ingin wilayah kami lestari," tegas Hendi.
Secara terpisah, Rhonank juga mengungkapkan hal senada. Hanya saja, dia lebih menyoroti peranan LSM yang seharusnya bisa mengayomi masyaSKt malah berulah sebaliknya. Dia amat menyesalkan aksi oknum LSM yang melakukan penyerangan terhadap warga Desa Wargasetra. "LSM harusnya membina warganya agar bisa memanfaatkn SDA dan SDM dgn tujuan kesejahteraan," tegasnya.
Rhonank sendiri merasa heran. Jika mengacu terhadap sejarah terbentuknya sebuah LSM sebagai lembaga penyampai aspirasi masyarkat, sudah tentu amat berbeda dengan sekarang. "LSM sekarang hanya sebagai alat kaum kapitalis, diadu dombakan, dimanfaatkan juga dijadikan beking dan bodygoard para pengusaha," ucapnya.
Sementara, Dadi Sugara justru lebih tegas lagi menyikapi aksi tidak bertanggung jawab oknum LSM yang melakukan penyerangan terhadap warga desa Wargasetra. Dia terang-terang menyatakan agar pemerintah kabupaten menghapus LSM yang tidak berpihak kepada masyaSKt. "Hapus LSM yang tidak berpihak ke masyaSKt. Jangan didiamkan saja," tegasnya.
Kendati begitu, Dadi tidak menampik jika untuk melakukan itu bukanlah hal mudah. Terlebih tidak sedikit LSM yang berdiri saat ini merupakan rentetan barisan dari pejabat atau penguasa tertentu. "Ganti bupati ganti LSM baru. Bukan makin berkurang malah bertambah. LSM yang tidak berpihak masyaSKt itu Preman berkedok LSM. Mereka bekerja untuk kepentingan segelintir kepentingan tanpa ada niat mensejahtSKn masyarkat. Bahkan sebaliknya malah menakut-nakuti dengan intimidasi kalau kepentingannya tidak terealisasi," ujarnya. (SK)
Gali Potensi Kecamatan Tegalwaru
TEGALWARU, SK - Diantara potensi yang belum tergali di Kecamatan Tegalwaru adalah tanaman kopi. Selama ini pohon itu masih ditanam sebagai tanaman kedua setelah padi. Padahal dalam sekali panen bisa untuk tanaman ini bisa mencapai puluhan ton.
"Di Kampung Sirnaruju, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru saja, produksi kopinya diperkiSKn bisa mencapai 10 ton," ucap Ukat, petani kopi asal Kampung Sirnaruju, belum lama ini. Dia menilai banyak potensi yang belum diberdayakan secara optimal di Karawang bagian selatan termasuk tanaman kopi.
Namun sampai saat ini produk unggulan dari Karawang selatan ini hanya dalam bentuk biji kering. Itupun penjualannya di kirim ke Cariu Bogor, karena dianggap lebih refresentatif mulai dari harga jarak dan kondisi jalan, hingga secara tidak langsung sebagian dari hasil mengalir ke daerah Bogor, bukan ke Karawang yang merupakan kota kabupaten dari daerah penghasil kopi tersebut.
Ukat (46) salah seorang petani warga Kampung Sirnaruju mengatakan, diperkiSKn, sedikitnya petani di kampung ini menghasilkan kopi sedikitnya mencapai 10 ton, terlebih jika tiga tahun kemudian, sebab banyak tanamn kopi yang baru panen tiga tahun kemudian. "Tanaman kopi makin banyak tanam oleh petani, hingga di perkiSKn tiga tahun kemudian kopi ini mulai bisa di panen," katanya.
Selaku petani Ukat juga menyampaikan, padahal tanaman kopi yang ditanam oleh petani lebih banyak di atas lahan tanah milik, dan bercampur dengan pohon lainnya. "Kalau pun di atas tanah milik yang namanya pohon keras atau pohon konservasi tetap di perlukan. Selain itu, tanaman kopi ini bisa di bawah tegakan," tuturnya.
Ukat berharap, dari hasil panen yang terus meningkat dari musim ke musim, hendaknya pemerintah menjadikan hasil panen tersebut dijadikan produk unggulan untuk daerah selatan ini. Disebutkannya pula, potensi pedesaan yang sebenarnya mempunyai sumber daya alam yang melimpah, mulai adanya hutan lindung, hutan konservasi atau hutan pendidikan. "Kami selaku masyaSKt setempat tidak begitu paham tentang permasalahan tersebut, dengan adanya tanaman ini kami hanya menginginkan seluruh hutan yang ada di pegunungan Sanggabuana terjaga hingga kelestariannya akan bertahan sampai kapan pun. Namun perekonomian masyaSKtpun harus terbangun, maka salah satu pilihan bagi petani di kampung tersebut adalah kopi," ujarnya. (ark)
"Di Kampung Sirnaruju, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru saja, produksi kopinya diperkiSKn bisa mencapai 10 ton," ucap Ukat, petani kopi asal Kampung Sirnaruju, belum lama ini. Dia menilai banyak potensi yang belum diberdayakan secara optimal di Karawang bagian selatan termasuk tanaman kopi.
Namun sampai saat ini produk unggulan dari Karawang selatan ini hanya dalam bentuk biji kering. Itupun penjualannya di kirim ke Cariu Bogor, karena dianggap lebih refresentatif mulai dari harga jarak dan kondisi jalan, hingga secara tidak langsung sebagian dari hasil mengalir ke daerah Bogor, bukan ke Karawang yang merupakan kota kabupaten dari daerah penghasil kopi tersebut.
Ukat (46) salah seorang petani warga Kampung Sirnaruju mengatakan, diperkiSKn, sedikitnya petani di kampung ini menghasilkan kopi sedikitnya mencapai 10 ton, terlebih jika tiga tahun kemudian, sebab banyak tanamn kopi yang baru panen tiga tahun kemudian. "Tanaman kopi makin banyak tanam oleh petani, hingga di perkiSKn tiga tahun kemudian kopi ini mulai bisa di panen," katanya.
Selaku petani Ukat juga menyampaikan, padahal tanaman kopi yang ditanam oleh petani lebih banyak di atas lahan tanah milik, dan bercampur dengan pohon lainnya. "Kalau pun di atas tanah milik yang namanya pohon keras atau pohon konservasi tetap di perlukan. Selain itu, tanaman kopi ini bisa di bawah tegakan," tuturnya.
Ukat berharap, dari hasil panen yang terus meningkat dari musim ke musim, hendaknya pemerintah menjadikan hasil panen tersebut dijadikan produk unggulan untuk daerah selatan ini. Disebutkannya pula, potensi pedesaan yang sebenarnya mempunyai sumber daya alam yang melimpah, mulai adanya hutan lindung, hutan konservasi atau hutan pendidikan. "Kami selaku masyaSKt setempat tidak begitu paham tentang permasalahan tersebut, dengan adanya tanaman ini kami hanya menginginkan seluruh hutan yang ada di pegunungan Sanggabuana terjaga hingga kelestariannya akan bertahan sampai kapan pun. Namun perekonomian masyaSKtpun harus terbangun, maka salah satu pilihan bagi petani di kampung tersebut adalah kopi," ujarnya. (ark)
Kamis, 26 Juni 2014
Motor Oknum LSM Dibakar
-Beking Pertambangan Liar di Tegalwaru
TEGALWARU, SK - Penolakan warga Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, terhadap aktivitas tambang di wilayahnya tidak main-main. Selain mensterilkan alat berat, warga juga membakar sepeda motor milik oknum LSM yang menjadi beking pertambangan liar di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga itu.
Aksi pembakaran yang dilakukan spontan oleh warga tersebut, bermula ketika sejumlah orang dari LSM yang membekingi pertambangan liar membuntuti dua orang warga Cipaga usai menggelar kesepakatan antara pengusaha dengan pemerintah, dan tokoh masyaSKt di kantor Desa Wargasetra, kemarin.
Sesampainya di rumah, tiba-tiba dua orang warga yang diketahui bernama Ahmad Hakim (30) dan Ule (33) dikeroyok oleh enam orang dengan menggunakan kayu. Saat dipukuli, Ule yang mempunyai kesempatan melarikan diri, langsung menuju kantor desa. Kebetulan, warga yang saat itu masih berkumpul di kantor desa, langsung menuju lokasi pemukulan setelah mendengar laporan dari korban. Sesampainya di lokasi, sekelompok orang yang sedang asyik memukuli Ahmad langsung lari tunggang langgang ketika melihat kedatangan warga. Kesal dengan perbuatan oknum LSM tersebut, warga melampiaskan kemarahannya dengan membakar kendaraan motor yang ditinggalkan pelaku. "Tangan saya memar menangkis setiap serangan pelaku. Saya berharap kejadian pemukulan ini diproses secara hukum. Sebab selama ini yang menjadi provokator keributan adalah LSM itu," tutur Ahmad.
Kepala Desa Wargasetra Baehaki mengatakan, warga kecewa terhadap pengusaha, terlebih kepada LSM yang seharusnya ikut menciptakan suasana kondusif, bukan malah berulah sebaliknya. "Warga kecewa pada LSM, bukannya membela masyaSKt malah berpihak kepada pengusaha. Terlebih ketika mereka memukuli warga kami," ujarnya.
Ia melanjutkan, sebetulnya persoalan warga dengan pengusaha pertambangan selesai, ketika pihak pengusaha sepakat untuk menurunkan alat beratnya di Blok Cibonteng. Tapi, keadaan menjadi tegang setelah oknum LSM tersebut menyakiti warganya. "Sebenarnya penolakan ini sudah dilakukan dengan beberapa tahap, namun pengusaha itu ngotot. Penolakan warga tidak dianggap, hingga akhirnya mereka (pengusaha) menggunakan jasa LSM untuk melindungi usaha pertambangan liarnya," ucapnya.
Secara terpisah, koordinator lapangan (korlap) aksi damai penolakan pertambangan Blok Cibonteng, H As�adudin, menyampaikan, proses aksi sebenarnya berjalan sesuai rencana. Namun, proses perundingan menjadi tercoreng ketika oknum LSM menyerang warga. "Massa tidak ada yang berbuat anarkis. Bahkan untuk alat berat sampai diturunkan oleh massa dan keamanannya dijamin oleh warga. Namun kenapa setelah prosesnya selesai, tiba-tiba oknum LSM yang membekingi perusahaan menyerang warga. Maka wajar jika warga marah," ungkapnya. (ark)
TEGALWARU, SK - Penolakan warga Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, terhadap aktivitas tambang di wilayahnya tidak main-main. Selain mensterilkan alat berat, warga juga membakar sepeda motor milik oknum LSM yang menjadi beking pertambangan liar di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga itu.
Aksi pembakaran yang dilakukan spontan oleh warga tersebut, bermula ketika sejumlah orang dari LSM yang membekingi pertambangan liar membuntuti dua orang warga Cipaga usai menggelar kesepakatan antara pengusaha dengan pemerintah, dan tokoh masyaSKt di kantor Desa Wargasetra, kemarin.
Sesampainya di rumah, tiba-tiba dua orang warga yang diketahui bernama Ahmad Hakim (30) dan Ule (33) dikeroyok oleh enam orang dengan menggunakan kayu. Saat dipukuli, Ule yang mempunyai kesempatan melarikan diri, langsung menuju kantor desa. Kebetulan, warga yang saat itu masih berkumpul di kantor desa, langsung menuju lokasi pemukulan setelah mendengar laporan dari korban. Sesampainya di lokasi, sekelompok orang yang sedang asyik memukuli Ahmad langsung lari tunggang langgang ketika melihat kedatangan warga. Kesal dengan perbuatan oknum LSM tersebut, warga melampiaskan kemarahannya dengan membakar kendaraan motor yang ditinggalkan pelaku. "Tangan saya memar menangkis setiap serangan pelaku. Saya berharap kejadian pemukulan ini diproses secara hukum. Sebab selama ini yang menjadi provokator keributan adalah LSM itu," tutur Ahmad.
Kepala Desa Wargasetra Baehaki mengatakan, warga kecewa terhadap pengusaha, terlebih kepada LSM yang seharusnya ikut menciptakan suasana kondusif, bukan malah berulah sebaliknya. "Warga kecewa pada LSM, bukannya membela masyaSKt malah berpihak kepada pengusaha. Terlebih ketika mereka memukuli warga kami," ujarnya.
Ia melanjutkan, sebetulnya persoalan warga dengan pengusaha pertambangan selesai, ketika pihak pengusaha sepakat untuk menurunkan alat beratnya di Blok Cibonteng. Tapi, keadaan menjadi tegang setelah oknum LSM tersebut menyakiti warganya. "Sebenarnya penolakan ini sudah dilakukan dengan beberapa tahap, namun pengusaha itu ngotot. Penolakan warga tidak dianggap, hingga akhirnya mereka (pengusaha) menggunakan jasa LSM untuk melindungi usaha pertambangan liarnya," ucapnya.
Secara terpisah, koordinator lapangan (korlap) aksi damai penolakan pertambangan Blok Cibonteng, H As�adudin, menyampaikan, proses aksi sebenarnya berjalan sesuai rencana. Namun, proses perundingan menjadi tercoreng ketika oknum LSM menyerang warga. "Massa tidak ada yang berbuat anarkis. Bahkan untuk alat berat sampai diturunkan oleh massa dan keamanannya dijamin oleh warga. Namun kenapa setelah prosesnya selesai, tiba-tiba oknum LSM yang membekingi perusahaan menyerang warga. Maka wajar jika warga marah," ungkapnya. (ark)
Tambang Batu Cibonteng Bebas Pengebor Batu
*Pengusaha: Kami Akan Tarik Alat Berat
TEGALWARU, SK - Kepala Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, Baehaki, dengan tegas meminta pihak pengusaha penambang batu andesit di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra agar mengeluarkan kobelco dan vibro (pengebor batu) yang sudah terparkir di pinggir jalan desa tersebut.
Permintaan itu dilontarkan usai aksi damai yang dilakukan warganya, Selasa (23/6) lusa. "Sebenarnya penolakan ini sudah dilakukan dengan beberapa tahap namun pengusaha itu ngotot. Penolakan warga tidak dianggap, hingga akhirnya mereka (pengusha, red) menggunakan jasa Lembaga Swadaya MasyaSKt (LSM)," ucap Baehaki.
Tidak hanya itu, kepala desa ini juga menyampaikan, alat berat (kobelco dan pengebor batu) yang sudah disusupkan pengusaha
tersebut ternyata sudah mulai dioperasikan. Sementara kesepakatan sudah ditandatangani oleh pihak pengusaha yang berjanji akan mengeluarkan alat berat itu bahkan sudah pula ditandatangani Camat atas nama Muspika.
Hal paling memprihatinkan, lanjut Baehaki, justru ulah oknum LSM yang membekingi pengusaha. Mereka melakukan penyerangan terhadap warga. Hal ini akhirnya menjadi penyulut aksi yang tadinya berjalan damai berubah menjadi mencekam. Warga kecewa terhadap pengusaha terlebih kepada LSM yang mestinya ikut menciptakan suasana kondusifitas malah berulah sebaliknya. "Warga kecewa pada LSM, bukannya membela masyaSKt malah berpihak kepada pengusaha," ujarnya.
Maka dengan sifatnya yang legowo Baehaki selaku Kepala desa berharap pengusaha menarik alat berat tersebut secepat mungkin, dan tidak menggunakan LSM jika ingin perdamaian. "Sampai saat inipun pengusaha masih tetap menambang, dan tidak dipermasalahankan, karena dengan menggunakan cara manual," ucap Baehaki. Kendati demikian dia tetap meminta warganya agar tidak mengambil tindakan sendiri-sendiri diluar koordinasi. Kepala desa inipun menyakini untuk permasalahan ini tidak akan berlarut kalau memang pengusaha ini tidak ngotot.
Secara terpisah, kordinator lapangan (korlap) aksi damai H. As�adudin, menyampaikan, untuk proses aksi sebenarnya berjalan sesuai rencana. Hingga tidak ada massa yang berbuat anarkis terlebih dari pihak pengusaha atau LSM sendiri orangnya hanya sedikit. Bahkan untuk alat beratpun sampai diturunkan oleh massa dan keamanannya dijamin oleh warga. Namun kenapa setelah prosesnya selesai tiba-tiba oknum LSM yang membekingi perusahaan menyerang warga. Maka wajar jika warga lain marah.
Dalam hal inipun diharapkan khususnya untuk penegak hukum dapat merasionalkan kejadian hingga siapa sebenarnya yang sudah menjadi penyulut hingga sepeda motor milik dari salah seorang LSM yang menyerang masyaSKt di bakar. Tak hanya itu, Koorlap inipun memberikan semangat pada warga kampung Cipaga jika ada serangan balik dari LSM atau melakukan pengancaman diharapkan langsung mengontek warga kampung Waru khususnya, dan umumnya warga desa Wargasetra. Karena jelas LSM tersebut sudah menodai perjanjian dan tidak menghargai kedaulatan rakyat, malah membela pengusaha.
Sementara, Imam Heryadi, pihak pengusaha saat ditemui mejelaskan, alat berat yang sudah berada disekitar area tambang batu akan segera ditarik. Bahkan penarikan itu diperkuat dengan surat pernyataan. Isi surat pernyataan tersebut diantaranya bersedia menarik alat berat paling lambat 3 X 24 jam, yang berada dilokasi galian Cibonteng kampung Cipaga RT 001/005 desa Wargasetra kecamatan tegalwaru. "Apabila kami tidak melakukan penarikan alat berat sesuai dengan waktu tersebut diatas, maka kami siap diproses sesuai dengan hukum yang berlaku," ucap Imam. (ark)
TEGALWARU, SK - Kepala Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, Baehaki, dengan tegas meminta pihak pengusaha penambang batu andesit di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra agar mengeluarkan kobelco dan vibro (pengebor batu) yang sudah terparkir di pinggir jalan desa tersebut.
Permintaan itu dilontarkan usai aksi damai yang dilakukan warganya, Selasa (23/6) lusa. "Sebenarnya penolakan ini sudah dilakukan dengan beberapa tahap namun pengusaha itu ngotot. Penolakan warga tidak dianggap, hingga akhirnya mereka (pengusha, red) menggunakan jasa Lembaga Swadaya MasyaSKt (LSM)," ucap Baehaki.
Tidak hanya itu, kepala desa ini juga menyampaikan, alat berat (kobelco dan pengebor batu) yang sudah disusupkan pengusaha
tersebut ternyata sudah mulai dioperasikan. Sementara kesepakatan sudah ditandatangani oleh pihak pengusaha yang berjanji akan mengeluarkan alat berat itu bahkan sudah pula ditandatangani Camat atas nama Muspika.
Hal paling memprihatinkan, lanjut Baehaki, justru ulah oknum LSM yang membekingi pengusaha. Mereka melakukan penyerangan terhadap warga. Hal ini akhirnya menjadi penyulut aksi yang tadinya berjalan damai berubah menjadi mencekam. Warga kecewa terhadap pengusaha terlebih kepada LSM yang mestinya ikut menciptakan suasana kondusifitas malah berulah sebaliknya. "Warga kecewa pada LSM, bukannya membela masyaSKt malah berpihak kepada pengusaha," ujarnya.
Maka dengan sifatnya yang legowo Baehaki selaku Kepala desa berharap pengusaha menarik alat berat tersebut secepat mungkin, dan tidak menggunakan LSM jika ingin perdamaian. "Sampai saat inipun pengusaha masih tetap menambang, dan tidak dipermasalahankan, karena dengan menggunakan cara manual," ucap Baehaki. Kendati demikian dia tetap meminta warganya agar tidak mengambil tindakan sendiri-sendiri diluar koordinasi. Kepala desa inipun menyakini untuk permasalahan ini tidak akan berlarut kalau memang pengusaha ini tidak ngotot.
Secara terpisah, kordinator lapangan (korlap) aksi damai H. As�adudin, menyampaikan, untuk proses aksi sebenarnya berjalan sesuai rencana. Hingga tidak ada massa yang berbuat anarkis terlebih dari pihak pengusaha atau LSM sendiri orangnya hanya sedikit. Bahkan untuk alat beratpun sampai diturunkan oleh massa dan keamanannya dijamin oleh warga. Namun kenapa setelah prosesnya selesai tiba-tiba oknum LSM yang membekingi perusahaan menyerang warga. Maka wajar jika warga lain marah.
Dalam hal inipun diharapkan khususnya untuk penegak hukum dapat merasionalkan kejadian hingga siapa sebenarnya yang sudah menjadi penyulut hingga sepeda motor milik dari salah seorang LSM yang menyerang masyaSKt di bakar. Tak hanya itu, Koorlap inipun memberikan semangat pada warga kampung Cipaga jika ada serangan balik dari LSM atau melakukan pengancaman diharapkan langsung mengontek warga kampung Waru khususnya, dan umumnya warga desa Wargasetra. Karena jelas LSM tersebut sudah menodai perjanjian dan tidak menghargai kedaulatan rakyat, malah membela pengusaha.
Sementara, Imam Heryadi, pihak pengusaha saat ditemui mejelaskan, alat berat yang sudah berada disekitar area tambang batu akan segera ditarik. Bahkan penarikan itu diperkuat dengan surat pernyataan. Isi surat pernyataan tersebut diantaranya bersedia menarik alat berat paling lambat 3 X 24 jam, yang berada dilokasi galian Cibonteng kampung Cipaga RT 001/005 desa Wargasetra kecamatan tegalwaru. "Apabila kami tidak melakukan penarikan alat berat sesuai dengan waktu tersebut diatas, maka kami siap diproses sesuai dengan hukum yang berlaku," ucap Imam. (ark)
Boleh Menambang Tanpa Alat Berat
TEGALWARU, SK - Warga Desa Wargasetra sebetulnya tidak keberatan jika penambangan batu andesit di wilayah mereka di Blok Cobonteng, Gunung Cipaga dieksploitasi. Karena mereka sadar, hal itu merupakan bagian dari proses pembangunan di desanya. Tetapi mereka tidak menginginkan lingkungan tempat tinggal mereka rusak karenanya warga menegaskan, boleh menambang namun tanpa menggunakan alat berat.
Ssayangnya, pengusaha pelaku aksi penambangan keras kepala. Mereka memaksakan kehendak dengan memasukan alat berat mesin pengebor batu ke lokasi pertambangan. Hal ini kemudian memicu reaksi warga dan melakukan penolakan terhadap mesin penambang batu tersebut.
Seperti diungkapkan Kepala Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, Baehaki, baru-baru ini. Menurut dia, pengusaha tidak menganggap reaksi yang muncul ditengah masyaSKt. "Bahkan informasi yang sampai ke saya, pengusaha sudah sempat mengoperasionalkan alat berat tersebut," ucap Baehaki. Hal itu menurut menurut memicu aksi damai warga dan meminta pada pihak pengusaha untuk mengeluarkan alat berat yang sudah ada dilokasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, kisruh penambangan batu andesit di perbukitan Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwalru belum berakhir. Terakhir setelah penolakan warga desa ternyata diam-diam pihak perusahaan penambang menyelundupkan mesin giling ke area pertambangan tersebut.
Dalam musyawarah yang dilakukan warga menginginkan agar penambangan dilakukan secara manual. Warga berpendapat jika penambangan dilakukan dengan menggunakan mesin akan menciptakan kerusakan lingkungan. �Kami selaku warga yang terdekat dengan lokasi yang dijadikan tempat penggilingan batu akan tetap menolak,� ujar Ojos (30), warga setempat.
Ojos menilai, jika penambangan dilakukan sederhana dengan menggunakan martil paling tidak bisa meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan. Saat ini, selain warga desa Wargasetra warga desa Cigunungsai juga tidak sedikit yang melakukan aktivitas menambangnya di lokasi pertambangan tersebut. Selain warga desa Cipurwasari yang mencapai ratusan orang, dan sudah dilakukan sejak puluhan lalu. (ark)
Ssayangnya, pengusaha pelaku aksi penambangan keras kepala. Mereka memaksakan kehendak dengan memasukan alat berat mesin pengebor batu ke lokasi pertambangan. Hal ini kemudian memicu reaksi warga dan melakukan penolakan terhadap mesin penambang batu tersebut.
Seperti diungkapkan Kepala Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, Baehaki, baru-baru ini. Menurut dia, pengusaha tidak menganggap reaksi yang muncul ditengah masyaSKt. "Bahkan informasi yang sampai ke saya, pengusaha sudah sempat mengoperasionalkan alat berat tersebut," ucap Baehaki. Hal itu menurut menurut memicu aksi damai warga dan meminta pada pihak pengusaha untuk mengeluarkan alat berat yang sudah ada dilokasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, kisruh penambangan batu andesit di perbukitan Blok Cibonteng, Gunung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwalru belum berakhir. Terakhir setelah penolakan warga desa ternyata diam-diam pihak perusahaan penambang menyelundupkan mesin giling ke area pertambangan tersebut.
Dalam musyawarah yang dilakukan warga menginginkan agar penambangan dilakukan secara manual. Warga berpendapat jika penambangan dilakukan dengan menggunakan mesin akan menciptakan kerusakan lingkungan. �Kami selaku warga yang terdekat dengan lokasi yang dijadikan tempat penggilingan batu akan tetap menolak,� ujar Ojos (30), warga setempat.
Ojos menilai, jika penambangan dilakukan sederhana dengan menggunakan martil paling tidak bisa meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan. Saat ini, selain warga desa Wargasetra warga desa Cigunungsai juga tidak sedikit yang melakukan aktivitas menambangnya di lokasi pertambangan tersebut. Selain warga desa Cipurwasari yang mencapai ratusan orang, dan sudah dilakukan sejak puluhan lalu. (ark)
Rabu, 25 Juni 2014
UPTD Kesehatan Tegalwaru Sosialisasi Desa Siaga
TEGALWARU, SK - Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Tegalwaru menggelar sosialisasi desa siaga di aula kantor kecamatan Teglawaru, baru-baru ini. Dalam sosialisasi tersebut disarankan agar ada revitalisasi, terutama bagi desa yang baru menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).
Asep Kusmayadi, SKM., pemateri sosialisasi desa Siaga, saat dikonfirmasi, menyampaikan sebenarnya Desa Siaga ini sudah dibentuk beberapa tahun yang lalu, namun keaktifannya tidak terlihat. Makanya dalam kesempatan itu disarankan untuk melakukan revitalisasi. "Program ini sebetulnya sudah digulirkan sejak beberapa tahu lalu namun tidak berjalan," ucapnya.
Menurut pemateri ini, dapat dikatakan desa siaga jika penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan. Termasuk dalam bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. "Agar program ini bisa berjalan perlu dioptimalkan dengan cara direvitalisasi," ujarnya.
Adapun untuk mencapai desa siaga diantaranya, pertama dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyaSKt tentang kesehatan. Kedua meningkatnya kegiatan masyaSKt dan melakukan antisipasi dan tindakan penyelamatan terhadap ibu hamil, nifas, bayi, anak dan masyaSKt. "Selain tingkatkan pengetahuan dan kesadaran kesehatan hal lain yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan kegiata masyarkt dalam pengamatan penyakit dan faktor resikonya," terang Asep.
Selain, lanjut Asep, kesiapsiagaan bencana dan kejadian luar biasa (KLB) hal lainnya adalah meningkatnya kesadaran terhadap gizi dan Pola hidup sehat biasa sehat (PHBS), termasuk pada kesadaran dalam meningkatkan sanitasi lingkungan (Raksa). Disamping meningkatnya Upaya Kesehatan Bersumber MasyaSKt seperti posyandu, UKBM Maternal dan UKBM lain yang dibutuhkan.
Adapun untuk pengertian revitalisasi desa siaga Asep sebagai pemateripun menjelaskan bahwa revitalisasi desa siaga merupakan kegiatan peningkatan pemberdayaan masyaSKt dalam mengoptimalkan kegiatan Desa siaga yang cakupannya di wilayah puskesmas. Artinya secara sederhana mengaktifkan kembali Desa siaga Menuju Desa siaga aktif mandiri.
Asep mengharapkan dengan upaya revitalisasi desa siaga ini secara khusus dapat mengaktifkan kembali desa siaga yang masih dalam kondisi pasif. Selanjutnya dapat menginventarisir data desa siaga, dalam artian meninjau kembali Surat Keputusan (SK) dari kepala desa dan struktur organisasi Desa Siaga itu sendiri. Selain itu menurutnya dengan revitalisasi itu dapat merefresh pengetahuan tentang desa siaga, serta meningkatkan strata desa siaga, dan meningkatkan koordinasi antara puskesmas dan kecamatan dan membina program desa siaga. (ark)
Asep Kusmayadi, SKM., pemateri sosialisasi desa Siaga, saat dikonfirmasi, menyampaikan sebenarnya Desa Siaga ini sudah dibentuk beberapa tahun yang lalu, namun keaktifannya tidak terlihat. Makanya dalam kesempatan itu disarankan untuk melakukan revitalisasi. "Program ini sebetulnya sudah digulirkan sejak beberapa tahu lalu namun tidak berjalan," ucapnya.
Menurut pemateri ini, dapat dikatakan desa siaga jika penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan. Termasuk dalam bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. "Agar program ini bisa berjalan perlu dioptimalkan dengan cara direvitalisasi," ujarnya.
Adapun untuk mencapai desa siaga diantaranya, pertama dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyaSKt tentang kesehatan. Kedua meningkatnya kegiatan masyaSKt dan melakukan antisipasi dan tindakan penyelamatan terhadap ibu hamil, nifas, bayi, anak dan masyaSKt. "Selain tingkatkan pengetahuan dan kesadaran kesehatan hal lain yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan kegiata masyarkt dalam pengamatan penyakit dan faktor resikonya," terang Asep.
Selain, lanjut Asep, kesiapsiagaan bencana dan kejadian luar biasa (KLB) hal lainnya adalah meningkatnya kesadaran terhadap gizi dan Pola hidup sehat biasa sehat (PHBS), termasuk pada kesadaran dalam meningkatkan sanitasi lingkungan (Raksa). Disamping meningkatnya Upaya Kesehatan Bersumber MasyaSKt seperti posyandu, UKBM Maternal dan UKBM lain yang dibutuhkan.
Adapun untuk pengertian revitalisasi desa siaga Asep sebagai pemateripun menjelaskan bahwa revitalisasi desa siaga merupakan kegiatan peningkatan pemberdayaan masyaSKt dalam mengoptimalkan kegiatan Desa siaga yang cakupannya di wilayah puskesmas. Artinya secara sederhana mengaktifkan kembali Desa siaga Menuju Desa siaga aktif mandiri.
Asep mengharapkan dengan upaya revitalisasi desa siaga ini secara khusus dapat mengaktifkan kembali desa siaga yang masih dalam kondisi pasif. Selanjutnya dapat menginventarisir data desa siaga, dalam artian meninjau kembali Surat Keputusan (SK) dari kepala desa dan struktur organisasi Desa Siaga itu sendiri. Selain itu menurutnya dengan revitalisasi itu dapat merefresh pengetahuan tentang desa siaga, serta meningkatkan strata desa siaga, dan meningkatkan koordinasi antara puskesmas dan kecamatan dan membina program desa siaga. (ark)
Revitalisasi Desa Siaga
TEGALWARU, SK - Pembentukan desa siaga sebetulnya sudah dilakukan sejak 2009 lalu. Namun lantaran banyaknya kegiatan yang menjadi program desa yang mesti dilakukan, akhirnya program desa siaga ini tertunda.
Pengurus Desa Siaga Cintalaksana, Ace Priatna mengatakan itu saat ditemui, kemarin. �Kalau tidak salah pembentukan desa siaga sudah sekitar tahun 2009. Namun karena banyak kegiatan lainnya program desa siaga ini kegiatannya tertunda," ujarnya, ketika diminta komentarnya mengenai program desa siaga.
Menyinggung soal usulan revitalisasi, Ace mengaku sependapat dengan usulan tersebut. Menurut dia, revitasasi bisa memicu optimalisasi program. Sehingga apa yang menjadi arah dan tujuan program desa siaga dapat terlaksana dengan maksimal. "Kita berharap melalui revitalisasi ini nantinya kegiatan desa siaga bisa kembali eksis," ucapnya.
Karenanya, menurut ACe, jika dijalankan sesuai prosedur kegiatan desa siaga tersebut mempunyai banyak manfaat. "Manfaat yang bisa dirasakan terutama oleh masyaSKt secara langsung. Terutama bagi masyaSKt yang aktif dan mengikuti prosedur," ucap Ace. Dia mengomentari manfaat program desa siaga itu terhadap masyarkat.
Dia juga menceritakan bahwa di desanya sebenarnya sudah memiliki SK, namun karena ada proses pembangunan balai desa prototype, hingga pada saat pindah ke kantor desa semantara, dan kembali kebalai desa, berkas tersebut menumpuk dengan yang lainnya. Namun Ace sendiri menyakini bahwa SK tersebut masih ada, karena dalam setiap pindahpun tidak ada yang tertinggal, hanya saja dimungkinkan menumpuk dengan arsip lainnya. (ark)
Pengurus Desa Siaga Cintalaksana, Ace Priatna mengatakan itu saat ditemui, kemarin. �Kalau tidak salah pembentukan desa siaga sudah sekitar tahun 2009. Namun karena banyak kegiatan lainnya program desa siaga ini kegiatannya tertunda," ujarnya, ketika diminta komentarnya mengenai program desa siaga.
Menyinggung soal usulan revitalisasi, Ace mengaku sependapat dengan usulan tersebut. Menurut dia, revitasasi bisa memicu optimalisasi program. Sehingga apa yang menjadi arah dan tujuan program desa siaga dapat terlaksana dengan maksimal. "Kita berharap melalui revitalisasi ini nantinya kegiatan desa siaga bisa kembali eksis," ucapnya.
Karenanya, menurut ACe, jika dijalankan sesuai prosedur kegiatan desa siaga tersebut mempunyai banyak manfaat. "Manfaat yang bisa dirasakan terutama oleh masyaSKt secara langsung. Terutama bagi masyaSKt yang aktif dan mengikuti prosedur," ucap Ace. Dia mengomentari manfaat program desa siaga itu terhadap masyarkat.
Dia juga menceritakan bahwa di desanya sebenarnya sudah memiliki SK, namun karena ada proses pembangunan balai desa prototype, hingga pada saat pindah ke kantor desa semantara, dan kembali kebalai desa, berkas tersebut menumpuk dengan yang lainnya. Namun Ace sendiri menyakini bahwa SK tersebut masih ada, karena dalam setiap pindahpun tidak ada yang tertinggal, hanya saja dimungkinkan menumpuk dengan arsip lainnya. (ark)
Rabu, 18 Juni 2014
Disdikpora Kembali Cetak 30 Polisi Siswa
*Peserta Pelatihan Pelajar Terlibat Tawuran
TEGALWARU, SK - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) kembali menggembleng 30 calon polisi siswa dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay ini sebagai upaya antisipasi terhadap kenakalan pelajar seperti tawuran dan bolos sekolah.
"Kegiatan ini digelar setiap tahun dan merupakan yang ke tiga. Perlu diketahui program ini juga merupakan bagian dari upaya mengantisipasi kenakalan remaja yang banyak dilakukan pelajar di tingkat menengah kejuruan, terutama masalah tawuran dan siswa bolos sekolah," ucap Hendrik Hermansyah, penggagas polisi siSwa ini, kemarin.
Dijelaskan Hendrik, kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay itu mendapat dukungan pemerintahan karawang melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpopra). Selain melibatkan Satuan Tugas Pelajar (Satgas Pelajar) untuk membentuk Polisi siswa. "Peserta didiknya berasal dari siswa berbagai sekolah yang sering terlibat tawuran dan kenakalan remaja lainnya," jelasnya.
Dijelaskan, para polisi Siswa ini digembleng baik fisik maupun mentalnya. Hingga dari yang awalnya loyo dan tidak disiplin menjadi semangat dan memiliki disiplin yang baik. Sementara peranan polisi siswa ini nantinya akan diarahkan untuk menjaga keamanan sekolah guna menghindari terjadi tawuran atau kenakalan pelajar. Sementara sistem kerja mereka bersifat simulator.
Artinya polisi dan dinas pendidikan mengikat mereka menjadi satgas pelajar untuk memotivasi temannya agar dapat menghindari bahkan menjauhi tawuran dan narkoba.
"Para Polisi Siswa ini bukan penindak pelajar yang tawuran, tapi lebih kepada tindakan pencegahan. Karena dengan lantar belakang dari berbagai SMK ini mereka bisa saling mengenal dan dapat mengendalikan," jelas Hendrik. Kalau memang teman-temannya masih tetap tidak bisa di cegah, lanjut Hendrik, maka polisi siswa ini disarankan meminta bantuan atau melapor kepada guru Bimbingan Konseling (BK) atau guru Bimbingan Penyuluhan (BP) jika tidak langsung kepada Kepala Sekolah dan polisi.
Untuk itulah rekrutmen Polisi Siswa ini adalah para pelajar yang bermasalah di sekolahnya, bukan pengurus Osis, Pramuka atau pengurus ekstrakulikuler yang nota bene merupakan siswa aktif dalam kegiatan positif. Kalaupun memang sampai saat ini masih ada yang salah kirim, tapi itu hanya sebagian kecil saja.
Secara terpisah, Melky (16) peserta Pendidikan berkarakter dari SMK GJ saat ditanya tentang berapa kali mengalami malas sekolah. Siswa ini menjawab, saking banyaknya dirinya sampai tidak ingat. Tetapi setelah mengikuti penggemblengan ini dirinya berjanji akan terus sekolah dan semangat untuk belajar. "Dipelatihan ini saya merasa apa yang saya lakukan merasa berdosa pada orang tuanya," ucap Melky seraya mengaku pernah tidak masuk sekolah hingga berbulan-bulan.
Sementara Tio Supriatna pelajar kelas X yang merupakan orang Tegalwaru namun bersekolah di SMK TJS sudah ingin pulang sejak hari pertama. Setelah terbuka dan mengungkapkan selain pernah terlibat tawuran juga sudah mengenal Narkoba sejak duduk dibangku SMP, hingga badannya cepat merasa cape dan lemas. Namun pengakuannya sejak masuk di SMK sudah jarang melakukan, terutama setelah mengikuti proses pendidikan berkarakter tidak akan lagi untuk mencoba, hingga keinginan untuk pulangpun tidak ada. Bahkan dia berjanji akan mengajak tema-temannya tidak lagi melakukan tawuran, apalagi narkoba. Harapannya semuanya keingiannya didukung oleh semua lapisan masyaSKt (keluarga) terutama pihak sekolah dan penegak aturan. (ark)
TEGALWARU, SK - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) kembali menggembleng 30 calon polisi siswa dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay ini sebagai upaya antisipasi terhadap kenakalan pelajar seperti tawuran dan bolos sekolah.
"Kegiatan ini digelar setiap tahun dan merupakan yang ke tiga. Perlu diketahui program ini juga merupakan bagian dari upaya mengantisipasi kenakalan remaja yang banyak dilakukan pelajar di tingkat menengah kejuruan, terutama masalah tawuran dan siswa bolos sekolah," ucap Hendrik Hermansyah, penggagas polisi siSwa ini, kemarin.
Dijelaskan Hendrik, kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay itu mendapat dukungan pemerintahan karawang melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpopra). Selain melibatkan Satuan Tugas Pelajar (Satgas Pelajar) untuk membentuk Polisi siswa. "Peserta didiknya berasal dari siswa berbagai sekolah yang sering terlibat tawuran dan kenakalan remaja lainnya," jelasnya.
Dijelaskan, para polisi Siswa ini digembleng baik fisik maupun mentalnya. Hingga dari yang awalnya loyo dan tidak disiplin menjadi semangat dan memiliki disiplin yang baik. Sementara peranan polisi siswa ini nantinya akan diarahkan untuk menjaga keamanan sekolah guna menghindari terjadi tawuran atau kenakalan pelajar. Sementara sistem kerja mereka bersifat simulator.
Artinya polisi dan dinas pendidikan mengikat mereka menjadi satgas pelajar untuk memotivasi temannya agar dapat menghindari bahkan menjauhi tawuran dan narkoba.
"Para Polisi Siswa ini bukan penindak pelajar yang tawuran, tapi lebih kepada tindakan pencegahan. Karena dengan lantar belakang dari berbagai SMK ini mereka bisa saling mengenal dan dapat mengendalikan," jelas Hendrik. Kalau memang teman-temannya masih tetap tidak bisa di cegah, lanjut Hendrik, maka polisi siswa ini disarankan meminta bantuan atau melapor kepada guru Bimbingan Konseling (BK) atau guru Bimbingan Penyuluhan (BP) jika tidak langsung kepada Kepala Sekolah dan polisi.
Untuk itulah rekrutmen Polisi Siswa ini adalah para pelajar yang bermasalah di sekolahnya, bukan pengurus Osis, Pramuka atau pengurus ekstrakulikuler yang nota bene merupakan siswa aktif dalam kegiatan positif. Kalaupun memang sampai saat ini masih ada yang salah kirim, tapi itu hanya sebagian kecil saja.
Secara terpisah, Melky (16) peserta Pendidikan berkarakter dari SMK GJ saat ditanya tentang berapa kali mengalami malas sekolah. Siswa ini menjawab, saking banyaknya dirinya sampai tidak ingat. Tetapi setelah mengikuti penggemblengan ini dirinya berjanji akan terus sekolah dan semangat untuk belajar. "Dipelatihan ini saya merasa apa yang saya lakukan merasa berdosa pada orang tuanya," ucap Melky seraya mengaku pernah tidak masuk sekolah hingga berbulan-bulan.
Sementara Tio Supriatna pelajar kelas X yang merupakan orang Tegalwaru namun bersekolah di SMK TJS sudah ingin pulang sejak hari pertama. Setelah terbuka dan mengungkapkan selain pernah terlibat tawuran juga sudah mengenal Narkoba sejak duduk dibangku SMP, hingga badannya cepat merasa cape dan lemas. Namun pengakuannya sejak masuk di SMK sudah jarang melakukan, terutama setelah mengikuti proses pendidikan berkarakter tidak akan lagi untuk mencoba, hingga keinginan untuk pulangpun tidak ada. Bahkan dia berjanji akan mengajak tema-temannya tidak lagi melakukan tawuran, apalagi narkoba. Harapannya semuanya keingiannya didukung oleh semua lapisan masyaSKt (keluarga) terutama pihak sekolah dan penegak aturan. (ark)
Aiptu Deden Sudrajat: Ciptakan Pelajar Disiplin
TEGALWARU, SK - Pemateri penggemblengan polisi siswa di Bumi Perkemahan Cilalay, Aiptu Deden Sudrajat, berharap para siswa dapat memahami dan mengamalkan seluruh materi yang diajarkan. Baik mengenai bela negara, bahaya narkoba maupun disiplin berlalu lintas. Melalui materi-matari tersebut diharapkan para siswa akan memiliki kedisiplinan yang tinggi.
"Selama ini terkesan pelajar itu menyalahi aturan dalam membawa kendaraan karena tidak memiliki SIM lantara belum cukup umur. Ditambah kalau membawa kendarannya hampir rata-rata selalu ngebut. Maka dalam pendidikan ini Siswa yang nota bene pelajar yang uSKn harus menjadi kader geSKn nasional pelopor keselamatan berlalu-lintas," ucap Deden yang juga Kanit Bin Polmas Polres Karawang.
Sementara, Bripda Fauzi Ridwan dan Briptu Fery Kurniawan yang merupakan pemateri kegiatan dari awal hingga akhir dan menjadi penanggungjawab pembinaan disiplin dan mental siswa, mengatakan, rata-rata pada waktu umur remaja mereka mencari jati diri sebenarnya. Hingga dalam penanganannya tidak hanya bisa ditindak secara hukum atau larangan saja, akan tetapi harus di tindak lanjuti secara intensif. Sebab menurutnya pada dasarnya di usia ini seperti senang atau merasa tertantang ketika ada larangan.
"Logikanya jika saja anak remaja ini takut dengan larangan maka tidak akan ada tawuran atau kelakuan remaja yang bertolak belakang dengan aturan. Makanya untuk menangani permasalahan kenakalan remaja harus secara terpadu. Artinya semua pihak harus ikut bertanggung jawab, mulai dari orang tua siswa, masyaSKt, terlebih pihak sekolah yang harus lebih cooperatif lagi," ucap Fauzi yang diiyakan Fery.
Baik Fauzi maupun Fery sependapat untuk merubah prilaku remaja atau siswa yang nakal, selain lingkungan dan masyaSKt, peran keluarga sangat penting. Sebab untuk masa yang mempunyai keleluasaan lebih dalam pengendalian adalah pihak keluarga. Terlebih jika mengingat bahwa waktu di sekolah dan di luar sekolah lebih banyak di luar, yang berarti sebenarnya tanggungjawab sekolah itu lebih sedikit. Namun untuk menjaga semua itu satu-satunya cara adalah adanya saling percaya dan kerja sama yang baik, pihak sekolah dengan orang tua siswa, maupun dengan lingkungan. (ark)
"Selama ini terkesan pelajar itu menyalahi aturan dalam membawa kendaraan karena tidak memiliki SIM lantara belum cukup umur. Ditambah kalau membawa kendarannya hampir rata-rata selalu ngebut. Maka dalam pendidikan ini Siswa yang nota bene pelajar yang uSKn harus menjadi kader geSKn nasional pelopor keselamatan berlalu-lintas," ucap Deden yang juga Kanit Bin Polmas Polres Karawang.
Sementara, Bripda Fauzi Ridwan dan Briptu Fery Kurniawan yang merupakan pemateri kegiatan dari awal hingga akhir dan menjadi penanggungjawab pembinaan disiplin dan mental siswa, mengatakan, rata-rata pada waktu umur remaja mereka mencari jati diri sebenarnya. Hingga dalam penanganannya tidak hanya bisa ditindak secara hukum atau larangan saja, akan tetapi harus di tindak lanjuti secara intensif. Sebab menurutnya pada dasarnya di usia ini seperti senang atau merasa tertantang ketika ada larangan.
"Logikanya jika saja anak remaja ini takut dengan larangan maka tidak akan ada tawuran atau kelakuan remaja yang bertolak belakang dengan aturan. Makanya untuk menangani permasalahan kenakalan remaja harus secara terpadu. Artinya semua pihak harus ikut bertanggung jawab, mulai dari orang tua siswa, masyaSKt, terlebih pihak sekolah yang harus lebih cooperatif lagi," ucap Fauzi yang diiyakan Fery.
Baik Fauzi maupun Fery sependapat untuk merubah prilaku remaja atau siswa yang nakal, selain lingkungan dan masyaSKt, peran keluarga sangat penting. Sebab untuk masa yang mempunyai keleluasaan lebih dalam pengendalian adalah pihak keluarga. Terlebih jika mengingat bahwa waktu di sekolah dan di luar sekolah lebih banyak di luar, yang berarti sebenarnya tanggungjawab sekolah itu lebih sedikit. Namun untuk menjaga semua itu satu-satunya cara adalah adanya saling percaya dan kerja sama yang baik, pihak sekolah dengan orang tua siswa, maupun dengan lingkungan. (ark)
Senin, 16 Juni 2014
RTH di Pangkalan Makin Menciut
PANGKALAN, SK - SEMAKIN berkurangnya ruang terbuka hijau di Karawang khususnya di karawang selatan, jelas memberikan dampak serius. Hal ini sudah dimulai sejak adanya zona industri. Bila tidak segera melakukan pengawasan ketat dikhawatirkan akan terjadi peningkatan pengurangan Ruang Tebuka Hijau (RTH).
Hal itu diungkapkan pemerhati masalah lingkungan, Abdullah, beberapa waktu lalu. Dia menyikapi kian menciutnya daerah resapan yang terjadi di selatan karawang akibat alih fungsi lahan teknis menjadi non teknis. Terjadinya alih fungsi pertanian menjadi industri atau perumahaan mau tidak mau harus disikapi serius. Karenanya menurut dia, untuk meminimalisir terjadinya ekspansi industri yang dikhawatirkan akan mengurangi ruang terbuka hijau, hal yang harus dilakukan adalah memperketat pengawasan terhadap kawasan industri yang melakukan aktivitasnya di Karawang Selatan.
Tidak hanya itu, hal paling dikhawatirkan adalah perkiraan penyusutan lahan teknis yang mencapai hingga ribuan hektar, ini akan mengubah wajah karawang menjadi lebih tandus. Ancaman pengurangan ruang terbuka hijau ini, dikatakan Abdullah, yang harus diwaspadai dengan tegas. "PenguSKn RTH bisa mencapai hingga 5000 hektar dan salah satunya untuk pengadaan bandara. Dari luas tersebut belum lagi membutuhkan fasilitas pendukungnya yang pasti terjadi. Diharapkan dengan kondisi seperti ini pemerintah daerah dapat memberlakukan atau menekan perusahaan agar mempunyai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku," ucap Abdullah.
Abdullah mengatakan itu sebagai solusi yang harus dilakukan pemerintah daerah. "Pengaruhnya sangat besar bagi kelangsungan hidup sebab Fungsi ekologis RTH yaitu dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan pengatur iklim mikro," ucap warga kampung Citaman, Desa Tamasari ini.
Disebutkan juga ketentuan luasan 30 persen RTH di setiap perkotaan merupakan hasil kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan 10 tahun. Namun Menurut Abdulah tampaknya untuk di selatan Karawang ini akan sulit terrealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota. Seperti pembangunan bangunan gedung, pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk.
Ditegaskan Abdullah, keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih menguntungkan dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Akibatnya, kebutuhan ruang (khususnya RTH) untuk berlangsungnya fungsi ekologis kurang terakomodasi. Sehingga berdampak terhadap terkendalanya pengelolaan RTH. (ark)
Hal itu diungkapkan pemerhati masalah lingkungan, Abdullah, beberapa waktu lalu. Dia menyikapi kian menciutnya daerah resapan yang terjadi di selatan karawang akibat alih fungsi lahan teknis menjadi non teknis. Terjadinya alih fungsi pertanian menjadi industri atau perumahaan mau tidak mau harus disikapi serius. Karenanya menurut dia, untuk meminimalisir terjadinya ekspansi industri yang dikhawatirkan akan mengurangi ruang terbuka hijau, hal yang harus dilakukan adalah memperketat pengawasan terhadap kawasan industri yang melakukan aktivitasnya di Karawang Selatan.
Tidak hanya itu, hal paling dikhawatirkan adalah perkiraan penyusutan lahan teknis yang mencapai hingga ribuan hektar, ini akan mengubah wajah karawang menjadi lebih tandus. Ancaman pengurangan ruang terbuka hijau ini, dikatakan Abdullah, yang harus diwaspadai dengan tegas. "PenguSKn RTH bisa mencapai hingga 5000 hektar dan salah satunya untuk pengadaan bandara. Dari luas tersebut belum lagi membutuhkan fasilitas pendukungnya yang pasti terjadi. Diharapkan dengan kondisi seperti ini pemerintah daerah dapat memberlakukan atau menekan perusahaan agar mempunyai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku," ucap Abdullah.
Abdullah mengatakan itu sebagai solusi yang harus dilakukan pemerintah daerah. "Pengaruhnya sangat besar bagi kelangsungan hidup sebab Fungsi ekologis RTH yaitu dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan pengatur iklim mikro," ucap warga kampung Citaman, Desa Tamasari ini.
Disebutkan juga ketentuan luasan 30 persen RTH di setiap perkotaan merupakan hasil kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan 10 tahun. Namun Menurut Abdulah tampaknya untuk di selatan Karawang ini akan sulit terrealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota. Seperti pembangunan bangunan gedung, pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk.
Ditegaskan Abdullah, keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih menguntungkan dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Akibatnya, kebutuhan ruang (khususnya RTH) untuk berlangsungnya fungsi ekologis kurang terakomodasi. Sehingga berdampak terhadap terkendalanya pengelolaan RTH. (ark)
Peruntukan Lahan Harus Jelas
TEGALWARU, SK - Banyak hutan rakyat yang tadinya lestari menjadi gersang. Akibatnya tidak heran jika hujan tiba airnya tidak terserap dan jika musim kemarau terjadi kekeringan.
Hal itu diungkapkan Syarif, pemerhati lingkungan. Dia melihat alih fungsi lahan yang terjadi di Kecamatan Tegalwaru bukan hanya menimpah lahan pertanian, kebun atau sawah saja, tetapi sudah merambah ke kawasan hutan. Alhasil, hasil pangan di kecamatan itupun terus merosot.
Tak hanya itu, dari awalnya alih kepemilikan tak sedikit menjadi pertambangan atau jadi galian. Akibatnya, lahan yang tadinya hutan bukan hanya menjadi gundul, akan tetapi lebih dari itu. "Pemerintah daerah diharapkan secepatnya melakukan upaya pencegahan agar alih fungsi lahan teknis ke non teknis tidak semakin menggila. Dan salah satunya terhadap over alih kepemilikan lahan oleh masyaSKt luar harus jelas peruntukannya," ucapnya.
Dikatakan Syarif, jika di luar peruntukannya maka tidak boleh ada jual beli. Dan jika kemudian melakukan tidak sesuai dengan perjanjian dapat ditindak hukum, apalagi jika melakukan aktivitas penggalian tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu itu layak untuk langsung ditindak secara hukum," ungkap Syarif.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan oleh Indonesia. Hal itu karena sektor pertanian mampu memberikan pemulihan dalam mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia. Keadaan inilah yang menampakkan bahwa sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal dan mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonomi nasional, melalui salah satunya adalah ketahanan pangan nasional. Dengan demikian diharapkan kebijakan untuk sektor pertanian lebih diutamakan, namun setiap tahun untuk luas lahan pertanaian selalu mengalami alih fungsi lahan dari lahan sawah ke lahan non sawah, begitupun hutan rakyat. Bahkan hutan negara sekalipun selalu menjadi incaran para pengusaha, ditambah lagi dengan penegak aturan yang selalu kalah dengan para pengusaha. (ark/rk)
Hal itu diungkapkan Syarif, pemerhati lingkungan. Dia melihat alih fungsi lahan yang terjadi di Kecamatan Tegalwaru bukan hanya menimpah lahan pertanian, kebun atau sawah saja, tetapi sudah merambah ke kawasan hutan. Alhasil, hasil pangan di kecamatan itupun terus merosot.
Tak hanya itu, dari awalnya alih kepemilikan tak sedikit menjadi pertambangan atau jadi galian. Akibatnya, lahan yang tadinya hutan bukan hanya menjadi gundul, akan tetapi lebih dari itu. "Pemerintah daerah diharapkan secepatnya melakukan upaya pencegahan agar alih fungsi lahan teknis ke non teknis tidak semakin menggila. Dan salah satunya terhadap over alih kepemilikan lahan oleh masyaSKt luar harus jelas peruntukannya," ucapnya.
Dikatakan Syarif, jika di luar peruntukannya maka tidak boleh ada jual beli. Dan jika kemudian melakukan tidak sesuai dengan perjanjian dapat ditindak hukum, apalagi jika melakukan aktivitas penggalian tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu itu layak untuk langsung ditindak secara hukum," ungkap Syarif.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan oleh Indonesia. Hal itu karena sektor pertanian mampu memberikan pemulihan dalam mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia. Keadaan inilah yang menampakkan bahwa sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal dan mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonomi nasional, melalui salah satunya adalah ketahanan pangan nasional. Dengan demikian diharapkan kebijakan untuk sektor pertanian lebih diutamakan, namun setiap tahun untuk luas lahan pertanaian selalu mengalami alih fungsi lahan dari lahan sawah ke lahan non sawah, begitupun hutan rakyat. Bahkan hutan negara sekalipun selalu menjadi incaran para pengusaha, ditambah lagi dengan penegak aturan yang selalu kalah dengan para pengusaha. (ark/rk)
Langganan:
Postingan (Atom)


