English French Spain Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2014

Bupati & Bunda Lebaran di Bui

KPK: Bupati Karawang dan Istrinya Memeras

Bupati Karawang Ade Swara dan istrinya, Hj Nurlatifah, dipastikan tidak bisa berlebaran bersama keluarganya pada Idul Fitri tahun ini. Saat ini, keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dijebloskan ke dalam tahanan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tadi malam.
Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap PT Tatar Kertabumi yang hendak membuat mal di Karawang. "ASW (Ade Swara) melakukan pemerasan terkait dengan izin penerbitan surat permohonan pemanfaatan ruang. Semacam RTW, guna pembangunan mal di Karawang," ujar Ketua KPK Abraham Samad saat jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Jumat (18/7) malam.
Dengan izin tersebut, kata Samad, keduanya memanfaatkan untuk melakukan pemerasan. "ASW dalam melakukan pemerasan melalui istrinya NLF (Nurlatifah) yang menerima uang. Kemudian uang diambil oleh adiknya," ujar Samad.
Atas perbuatan itu, keduanya dijerat Pasal 12 e atau Pasal 23 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 421 jo Pasal 55 KUHP. "Informasi ini didapatkan KPK melalui satu orang pelapor. Maka dari itu, menggunakan pasal 12e, pemerasan," tandas Samad.
Selain menetapkan pasangan suami istri ini sebagai tersangka, KPK menyita barang bukti berupa uang pecahan dolar Amerika Serikat (USD) sebanyak USD 424.349 atau sekitar Rp 5 miliar. Menurut Abraham Samad, uang USD 424.349 itu terdiri dari pecahan USD 100 sebanyak 4.230 lembar, kemudian pecahan USD 20 sebanyak 2 lembar, pecahan USD 5 dan USD 1 masing-masing 1 lembar. �Uangnya diambil dari perusahaan itu (PT Tatar Kerta Bumi),� jelasnya.
Abraham menjelaskan, uang dari hasil pemerasan itu diambil oleh adik Nurlatifah. Namun, hingga kini nama adik Nurlatifah itu belum dipublikasikan. Dari hasil penelusuran dan pemeriksaan, kata Abraham, akhirnya KPK menetapkan Ade dan Nurlatifah sebagai tersangka dugaan pemerasan. Pasal yang disangkakan adalah 12 e atau pasal 23 UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto pasal 421 KUHP, pasal 55 ayat 1 ke-1 KHUP.
Di tempat sama, Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan bahwa hingga saat ini penyidik masih menyelidiki kasus yang berkaitan dengan PT Tatar Kerta Bumi. Meski beredar sejumlah nama perusahaan real estate ternama lainnya dalam kasus itu, namun Johan menegaskan bahwa KPK masih fokus ke PT Tatar Kerta Bumi. "KPK konsen kasus ini masih di Tatar, selanjutnya nanti dalam penggalian yang lebih dalam. Nanti KPK ambil satu kesimpulan ada tidaknya perusahaan lain pihak-pihak terkait lain," tandas Johan.
Selanjutnya dijelaskan Johan, sebalumnya KPK meringkus 8 orang pada Kamis (17/7) dan Jumat (18/7) dinihari. Orang terakhir yang ditangkap adalah Bupati Ade Swara. Dari jumlah 8 orang itu yang dijadikan tersangka saat ini oleh KPK adalah Ade Swara dan Nurlatifah. "Bupati Karawang ditangkap terpisah, terakhir. Saat itu dia lagi safari Ramadan. Usai kegiatan itu, baru ditangkap," beber Johan.
Suami istri ini, kata Johan, adalah penyelenggara negara. Ade adalah bupati sedangkan Nurlatifah adalah anggota DPRD Karawang terpilih. Keduanya memeras dengan memanfaatkan surat izin permohonan pemanfaatan ruang guna pembangunan mal di Karawang. Dalam kasus ini KPK tidak menjelaskan identitas 6 orang terperiksa lainnya yang sempat diciduk Kamis malam kemarin. "ASW ditahan di Rutan Guntur dan 1 orang lagi, NLF ditahan di rutan KPK," tandas Johan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menjelaskan, operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dalam bentuk laporan dari orang. Karenanya, pihaknya menggunakan pasal pemerasan. "Dalam banyak kasus di KPK sebenarnya cukup jarang pakai pasal pemerasan. Pernah ada kasus pajak dan Atut," kata pria yang biasa disapa BW ini.
Menurutnya, pihak-pihak yang diamankan cukup kooperatif. Selama pemeriksaan mereka sangat membantu KPK. Hasilnya, proses pemeriksaan berlangsung tak terlalu lama. "Kemudian, karena tempatnya agak jauh, kita (penyidik) tempatkan KPK line di beberapa tempat. Tapi bukan penggeledahan, itu pengamanan tempat-tempat yang diduga bagian dari tindak pidana," terang BW.
"Yang terkahir KPK ucapkan terima kasih kepada pelapor dan masyaSuara Karawangt sehingga kasus ini bisa ditangani sangat cepat dan akurat. Kami berharap apabila ada informasi masyaSuara Karawangt silahkan sampaikan ke KPK," sambung bekas Ketua YLBHI tersebut. (flo/zul)

Jumat, 18 Juli 2014

Geger Ade Swara Ditangkap KPK

KARAWANG, Suara Karawang - Bupati Ade Swara dikabarkan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (17/7). Sayangnya hingga berita ini ditulis, masih belum jelas siapa saja yang ditangkap terkait dugaan kasus suap yang ditangani lembaga antirasuah tersebut.
Hingga tengah malam tadi, rumah dinas bupati (RDB) terlihat masih riuh. Namun, tak terlihat orang nomor satu di Kabupaten Karawang tersebut. Salah seorang pejabat di lingkungan Pemkab Karawang menyebutkan, Bupati Ade Swara ikut dijemput. "Informasi yang saya dapat, bupati, ada pejabat juga. Katanya ada pihak swasta juga," ujar sumber yang enggan disebutkan identitasnya tersebut.
Informasi yang dihimpun di sekitar rumah dinas bupati, mobil KPK datang ke RDB pukul 19.00 WIB. Saat itu terjadi ketegangan antara anggota LSM dan anggota KPK yang meminta kejelasan kaitan dengan penggeledahan tersebut. Salah satu saksi mata, Awandi Sirodj, KPK tiba dengan menggunakan 3 mobil. "Jadi saat itu saya tanya, ada apa rame-rame begini, ternyata tidak dijawab. Akhirnya saya naik pitam berteriak dan meminta kejelasan seraya mengancam akan menggembok pintu RDB," katanya.
Karena terus berteriak, salah satu anggota KPK pun mendatangi Awandi seraya menjelaskan maksud kedatangannya. Anggota itupun menunjukan kartu anggota kepada Awandi. "Ya betul sekarang sedang ada Operasi Tangkap Tangan (OTT), kami tengah bertugas langsung dari Jakarta," katanya menirukan salah satu anggota KPK yang mengenakan masker.
Pada saat penggeledahan, anggota KPK masuk ke RDB dengan menggunakan 3 mobil. Namun keluar RDB dengan menggunakan 5 mobil. "Saya tidak tahu siapa saja yang di dalam," ujarnya lagi.
Karena tidak berhasil menemui bupati, Suara Karawang mencoba menghubungi istri Bupati Ade Swara, Hj Nurlatifah tadi malam. Sayangnya, meski bernada aktif namun tidak diangkat. Sedangkan informasi internal KPK membenarkan operasi tangkap tangan tersebut berlangsung di Karawang. "Benar, masih operasi," kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Saat dihubungi Radar Karawang, Johan Budi belum mau menjelaskan secara rinci dengan alasan masih menunggu informasi lengkap. "Informasinya di Karawang, tapi kami masih menunggu informasi jelasnya. Kalau sudah jelas nanti kita kabari ya," ujarnya singkat.
Meski begitu, Johan membenarkan ada keluarga bupati yang ditangkap KPK bersama pihak swasta yang seluruhnya berjumlah lima orang. Disebut-sebut, pihak swasta berinisial AS, sementara dari keluarga bupati berinisial N. Sedangkan dari pejabat disebut-sebut berinisial M. Saat ditanya lebih lanjut, Johan tidak membantah kasus tersebut berkaitan dengan perizinan perumahan mewah yang melibatkan lingkaran orang-orang dekat bupati. "Tapi tidak terkait dengan pilpres seperti kabar yang beredar di teman-teman wartawan," ujarnya.
Sumber resmi di KPK lainnya juga belum bisa memberikan penjelasan. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto saat dihubungi juga tak mau berkomentar. "Pada saat yang tepat akan dijelaskan," singkatnya.
Sementara itu, informasi lainnya yang beredar menyebutkan, penangkapan terhadap Ade Swara dilakukan karena diduga terlibat transasksi suap menyuap terkait izin alih fungsi lahan di wilayah Karawang. Izin alih fungsi lahan tersebut terkait dengan rencana pembangunan sebuah perumahan mewah.
Disebutkan, Ade Swara ditangkap bersama sejumlah orang dalam sebuah operasi yang dilakukan tim KPK sore kemarin. Setelah melakukan penangkapan, tim KPK dikabarkan langsung melakukan penggeledahan di rumah dinas bupati. Pihak swasta dalam kasus transaksi suap menyuap ini dikabarkan perusahaan perumahan ternama.
Selain bupati dan istrinya, dari pihak keluarga Bupati Ade Swara belum ada yang bisa memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut. Begitupun Kabag Humas Pemkab Karawang Yasin Nasrudin, saat dihubungi mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. (dem/rk/fah/vid)

Rabu, 02 Juli 2014

2000 warga Telukjambe Timur Belum Punya KTP dan KK

TELUKJAMBE TIMUR, SK - Kendati sosialisasi terus dilakukan namun sebanyak 2000 orang warga Kecamatan Telukjambe Timur belum mempunyai KTP elektronik dan Kartu keluarga (KK). Hal itu terjadi karena minimya kesadaran warga akan pentingnya identitas diri.

"Pihak kecamatan terus melakukan sosialisasi serta penyuluhan kepada masyaSKt melalui rapat minggon di Kecamatan serta desa agar masyaSKt membuat KTP elektronik dan KK agar mempunyai identitas masyaSKt. Sayangnya, kesadaran masyaSKt memang minim, sehingga masih banyak yang enggan mengurus pembuatan KTP dan kartu keluarga," ujar Kasie Kependudukan, Kecamatan Telukjambe Timur Disyana.
Meski demikian dia menambahkan, angka 2000 jumlah warga yang belum memiliki KTP dan KK itu merupakan data kependudukan. Sedang jika mengacu data lapangan jumlahnya hanya mencapai sekitar 1000 warga. "Pembengkakan angka hingga mencapai 1000 itu karena ternyata masih banyak masyaSKt yang menggunakan NIK KK yang 10.17 padahal NIK KK yang digunakan sekarang 32.15," ujarnya. 
Disyana menambahkan, pihak kecamatan terus melakukan sosialisasi serta penyuluhan untuk pembuatan KTP elektronik serta perubahan NIK KK dari 10.17 menjadi 32.15. Mekanisme pembuatan tersebut dengan meminta surat pengantar dari rukun tetangga (RT) setempat, serta dilengkapi dengan persayaratan lainya diantaranya Foto copy ijazah dan fotocopy KK. Dilanjutkan dengan surat nikah yang untuk meminta register desa dan dilanjutkan ke kecamatan untuk diregister selanjutnya di bawa ke Dinas Kependudukan dan catatan sipil (Disdukcakpil) Kabupaten Karawang untuk segera dibuat. Oleh karena itu, masyaSKt yang belum mempunyai untuk segera membuat agar mempermudah identitas masyaSKt.
Dia melanjutkan, masyaSKt yang belum mengurus KTP dan KK beralasan belum ada kebutuhan mendesak yang menuntutnya harus memiliki KTP dan KK, seperti halnya untuk kepengurusan BPJS yang harus melampirkan KTP dan KK. MasyaSKt yang sudah punya identitas ada sekitar 90 persen untuk KK dan KTP elektronik. Hal itu terus dilakukan pemantauan dilapangan melalui RT dan desa masing-masing agar masyaSKt semua mempunyai identitas.
Selain itu, menjelang Pemilihan Presiden (pilpres) Disyana mengatakan, ada sekitar 80.471 orang yang mempunyai hak pilih dan 145 tempat pemungutan suara (TPS) se Kecamatan Telukjambe Timur. MasyaSKt yang belum terdaftar dalam daftar pemilih tetap harus segera mengkoordinasikan kepada PPK agar mendapat hak pilih khusus sehingga aspirasi masyaSKt dapat tersampaikan.
"Alhamdulilah kotak suara pemilu sudah datang dan formulir undangan C6 sudah langsung didistribusikan ke masyaSKt yang sudah ada di DPT. Bagi yang namanya belum ada agar koordinasi dengan PPK setempat agar mendapatkan hak pilih," katanya. (cr3) 

Selasa, 01 Juli 2014

Siswa Polisikan 5 Guru Madrasah Aliyah

- Diduga Lakukan Penganiayaan

PURWAKARTA,SK- Tak terima dianiaya, siswa Madrasah Aliyah (MA) di Desa Cilegong, Kecamatan Jatiluhur, Anjas Maulana melaporkan 5 orang guru berikut satu orang seniornya ke Mapolres Purwakarta. Kelima orang guru tersebut adalah HR, ISM, APW, BSS, MNIH.
Kuasa hukum korban, Marison Simarmata SH mengatakan, korban melapor ke Polres Purwakarta lantaran tak terima tindakan para guru serta satu orang seniornya, KZ di sekolah tempat korban menuntut ilmu. Dimana korban diduga telah dianiaya hingga gendang telinganya nyaris pecah. Kondisi ini berimbas pada kualitas pendengaran korban yang terganggu. Korban kadang bisa mendengar dan kadang tidak. Hal ini dikuatkan hasil visum yang menyatakan bahwa gangguan pendengaran korban disebabkan adanya benturan benda tumpul di sekitar telinga. "Untuk memastikan, kita sudah laporkan kasus ini ke Polisi. Beberapa orang terlapor dan saksi bahkan sudah dipanggil dan dimintai keterangan," ujar Marison, Senin (30/6).
Marison bercerita, kejadian penganiayaan ini sebenarnya sudah cukup lama, persisnya terjadi pertengahan Mei 2014. Korban yang tercatat sebagai anggota kelompok pecinta alam Ikatan Orang Natural (ION) kala itu bermaksud mengundurkan diri dari organisasi tersebut. Hal ini disebabkan sejumlah persoalan. Begitu mengutaSKn niatnya, korban bukannya mendapat respon positif, sebaliknya malah dicibir. Lebih dari itu, korban bahkan diduga mendapat tindak penganiayaan dari senior serta bebeberapa orang gurunya. "Ini sangat memprihatinkan," tukas Marison Simarmata.
Orang tua korban, Dede Maulana dan Sondang Mangatur Aritonang meminta pihak Polres Purwakarta, khususnya penyidik segera menuntaskan laporan yang telah dimasukan ke lembaga penegak hukum ini. Ia pun mendesak polisi segera menahan para tersangka yang sampai sekarang masih berkeliaran. "Kami ingin hukum ditegakan," desak Dede. (nos)

Kamis, 26 Juni 2014

Motor Oknum LSM Dibakar

-Beking Pertambangan Liar di Tegalwaru

TEGALWARU, SK - Penolakan warga Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, terhadap aktivitas tambang di wilayahnya tidak main-main. Selain mensterilkan alat berat, warga juga membakar sepeda motor milik oknum LSM yang menjadi beking pertambangan liar di Blok Cibonteng, Gunung Cipaga itu.
Aksi pembakaran yang dilakukan spontan oleh warga tersebut, bermula ketika sejumlah orang dari LSM yang membekingi pertambangan liar membuntuti dua orang warga Cipaga usai menggelar kesepakatan antara pengusaha dengan pemerintah, dan tokoh masyaSKt di kantor Desa Wargasetra, kemarin.
Sesampainya di rumah, tiba-tiba dua orang warga yang diketahui bernama Ahmad Hakim (30) dan Ule (33) dikeroyok oleh enam orang dengan menggunakan kayu. Saat dipukuli, Ule yang mempunyai kesempatan melarikan diri, langsung menuju kantor desa. Kebetulan, warga yang saat itu masih berkumpul di kantor desa, langsung menuju lokasi pemukulan setelah mendengar laporan dari korban. Sesampainya di lokasi, sekelompok orang yang sedang asyik memukuli Ahmad langsung lari tunggang langgang ketika melihat kedatangan warga. Kesal dengan perbuatan oknum LSM tersebut, warga melampiaskan kemarahannya dengan membakar kendaraan motor yang ditinggalkan pelaku. "Tangan saya memar menangkis setiap serangan pelaku. Saya berharap kejadian pemukulan ini diproses secara hukum. Sebab selama ini yang menjadi provokator keributan adalah LSM itu," tutur Ahmad.
Kepala Desa Wargasetra Baehaki mengatakan, warga kecewa terhadap pengusaha, terlebih kepada LSM yang seharusnya ikut menciptakan suasana kondusif, bukan malah berulah sebaliknya. "Warga kecewa pada LSM, bukannya membela masyaSKt malah berpihak kepada pengusaha. Terlebih ketika mereka memukuli warga kami," ujarnya.
Ia melanjutkan, sebetulnya persoalan warga dengan pengusaha pertambangan selesai, ketika pihak pengusaha sepakat untuk menurunkan alat beratnya di Blok Cibonteng. Tapi, keadaan menjadi tegang setelah oknum LSM tersebut menyakiti warganya. "Sebenarnya penolakan ini sudah dilakukan dengan beberapa tahap, namun pengusaha itu ngotot. Penolakan warga tidak dianggap, hingga akhirnya mereka (pengusaha) menggunakan jasa LSM untuk melindungi usaha pertambangan liarnya," ucapnya.
Secara terpisah, koordinator lapangan (korlap) aksi damai penolakan pertambangan Blok Cibonteng, H As�adudin, menyampaikan, proses aksi sebenarnya berjalan sesuai rencana. Namun, proses perundingan menjadi tercoreng ketika oknum LSM menyerang warga. "Massa tidak ada yang berbuat anarkis. Bahkan untuk alat berat sampai diturunkan oleh massa dan keamanannya dijamin oleh warga. Namun kenapa setelah prosesnya selesai, tiba-tiba oknum LSM yang membekingi perusahaan menyerang warga. Maka wajar jika warga marah," ungkapnya. (ark)

Rabu, 25 Juni 2014

Jalan Cepat Rusak, Bina Marga Sindir Dishub

KARAWANG, SK - Sering menjadi sorotan terkait ruas jalan mudah rusak, antardinas saling tuding. Setidaknya, itu terungkap pada saat rapat dengan anggotra DPRD Karawang, kemarin.
Di sisi lain, anggota DPRD meminta Dinas Bina Marga menjamin daya tahan jalan. "Ada keberanian gak dinas bina marga transparan dengan memasang papan informasi soal ketahanan jalan," ujar anggota Komisi C DPRD Karawang Natala Sumedha.
Pasalnya kata dia, selama ini masyaSKt bertanya-tanya, mengapa jalan yang baru saja diperbaiki sudah kembali mengalami kerusakan. Padahal hanya dalam hitungan bulan saja. Karena itu, Natala menantang ke Kepala Dinas Bina Marga untuk berani menjamin ketahanan jalan dengan mencantumkan di papan informasi. "Bapak berani gak itu, saya tantang. Ketahanan jalan sekian ton, kelas berapa yang boleh dilintasi," imbuhnya.
Apalagi kata Natala, anggaran untuk infrastruktur ini sangat besar yang hampir mencapai Rp 500 miliar. Seharusnya, masyaSKt sudah menikmati ruas jalan yang halus, bukan malah gerowakan jalan rusak. "Anggaran kan besar, masa jalan masih rusak," ujarnya.
Ditantang seperti itu, Acep Jamhuri mengatakan, pencantuman informasi soal ketahanan jalan tidak ada didalam aturan, sehingga dirinya tak bisa berbuat banyak. "Kalau regulasi ada kita siapkan," timpalnya.
Lanjut Acep, soal papan informasi tersebut sebenarnya tidak perlu ada jika Pemkab Karawang tegas memberlakukan Peraturan Daerah Kelas jalan. Karena menurut Acep, kerusakan jalan saat ini lantaran ketahanan jalan tak sebanding dengan volume kendaraan yang melintas melebihi tonase. "Kita bikin jalan kan sudah rancang untuk kendaraan apa saja, tapi kalau di kita kan jalan kabupaten itu maksimal 8 ton, sekarang yang lewat kendaraan besar semua," bebernya.
Acep menuding, saat ini Dishub kominfo yang lalai melakukan pengawasan terhadap Perda Kelas Jalan, sehingga banyak kendaraan yang melebihi tonase. Seharusnya, jika kendaraan yang melebihi tonase segera ditindak. "Mana action Dishub sampai saat inu tidak ada," sindirnya.
Selain itu, Dishub diminta lebih aktif memberikan pengawasan terhadap kendaraan bertonase besar. "Itu di Badami rusak terus karena kendaraan besar lewat, mana Dishub kok diam saja," sesalnya.
Selain itu, di beberapa ruas tertentu, terutama bagi lalulalang kendaraan perusahaan, pihaknya akan merubah kelas jalan tersebut setingkat lebih tinggi. "Pada ruas tertentu kontruksi akan berbuah, dari kelas III ke II dan ke satu, karena dapat dilewati tonase lebih besar," pungkasnya. (vid)

Perang di Ujung Karawang

-Eksekusi 350 Hektare Lahan Diwarnai Perlawanan

KARAWANG, SK - Tiga akses vital di Karawang yakni Interchange Karawang Barat, Gerbang Tol Karawang Barat dan gerbang Tol Karawang Timur, lumpuh total selama beberapa jam akibat diblokade warga yang marah akibat eksekusi lahan seluas 350 hektare di tiga desa di Kecamatan Telukjambe Barat, Selasa (24/6). Bentrokan tak bisa dihindarkan ketika Polisi berusaha membubarkan mereka dengan menggunakan watercannon.
Lumpuhnya ketiga akses tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB saat dimana ribuan masyaSKt mulai beraktivitas. Ribuan kendaraan yang melintas di tiga titik itu nyaris tak bisa bergerak. Sekitar dua jam, para pengendara yang melintas di jalur tersebut hanya bisa terdiam. Mereka tak bisa melajukan kendaraannya lantaran ruas jalan ditutup oleh warga dan serikat buruh.
Tak hanya akses vital di tiga desa itu yang terputus. Ribuan buruh di pabrik yang ada di kawasan tersebut pun, terpaksa harus bolos bekerja dan turun dari bus karyawan, hingga tertahan di kawasan Interchange Tol Karawang Barat. Bentrokan antara warga yang dibantu serikat pekerja dengan pihak aparat keamanan terjadi ketika Kabag Ops Polres Karawang Kompol Imam Rahman bersama ratusan personel Dalmas Polres Karawang minta kepada mereka agar membuka ke tiga akses vital yang ditutup tersebut. "Kami cuma minta kalian untuk membuka akses jalan. Ini sarana vital masyaSKt yang sifatnya umum. Jadi kami harap kalian bisa mengerti dan segera buka akses jalannya," tegas Kabag Ops Polres Karawang.
Permintaan Kabag Ops tersebut tidak langsung dituruti pendemo. Mereka malah balik melakukan perlawanan hingga aparat Dalmas Polres Karawang menyiramkan water canon.
Mendapati siraman water canon, warga dan serikat buruh mundur dan tambah bringas, melakukan pelemparan kepada petugas, hingga bentrokan pun pecah. Beruntung, hanya dalam hitungan waktu kurang dari satu jam, situasi di interchange dan gerbang tol Karawang Barat bisa dikuasi, hingga akses itu lancar kembali dilalui berbagai kendaraan. Dalam bentrokan itu, seorang anggota serikat buruh terluka serius di bagian kepalanya.
Seorang tokoh masyaSKt di Karawang Barat, H Aep mengatakan, aksi tersebut spontan dilakukannya sebagai rasa solidaritas pada warga dan petani di tiga desa di Telukjambe Barat yang lahannya akan dieksekusi. "Pada intinya, kami menolak eksekusi itu," ucapnya.
Ketegangan juga terjadi di Lapangan Konsorsium Desa Wanasari, Kecamatan Telukjambe Barat. Di salah satu lokasi eksekusi tersebut, ratusan warga yang menolak eksekusi itu melakukan berbagai aksi penentangan. Dimulai dengan orasi yang dilanjutkan dengan salat zuhur berjamaah. Namun saat warga tengah melakukan salat berjamaah di tengah jalan Konsorsium, Bupati Karawang Ade Swara datang ke lokasi. Orang nomor satu di Pemkab Karawang itu pun bersama Kapolres AKBP Daddy Hartadi melakukan mediasi dengan warga.
Dalam mediasi itu, perwakilan warga tiga desa, Amandus Juang mengatakan penolakan yang dilakukan warga lantaran dalam pelaksanaan eksekusi ini pihak pengeksekusi tidak menjelaskan secara rinci terkait batasan dan lahan yang akan dieksekusi. "Sebenarnya kami bisa menerima eksekusi kalau batasan dan lahan yang akan dieksekusi itu jelas. Kami mohon eksekusi ini ditunda sampai pihak yang mengeksekusi bisa memberikan jawaban terkait hal tadi," katanya.
Bupati Karawang agaknya tidak mampu berbuat apa-apa. Dia pun seolah menerima keputusan PN Karawang terkait eksekusi lahan seluas 350 ha tersebut. Situasi makin memanas saat ada sejumlah warga yang menyiarkan kabar adanya korban meninggal yang dilakukan aparat kepolisian. Kabar itu kemudian menyulut emosi warga lainnya hingga melakukan pelemparan dan penyerangan terhadap aparat kepolisian.
Mendapati perlakuan tersebut, aparat Brimob dan Dalmas tidak terpancing. Mereka hanya melakukan formasi kuda-kuda dan memerintahkan warga untuk meninggalkan lokasi eksekusi.
Lagi-lagi, warga melakukan aksi duduk di lokasi eksekusi, hingga aparat keamanan membubarkannya dengan semprotan water canon. Kapolres Karawang AKBP Daddy Hartadi di lokasi eksekusi mengatakan, dalam hal ini pihak kepolisian hanya melakukan pengamanan dan penjagaan, supaya pelaksanaan eksekusi bisa berjalan secara kondusif. Ditanya soal kabar adanya warga yang tewas dalam bentrokan tersebut, Daddy pun menggelengkan kepalanya. "Kabar itu tidak benar," ujarnya singkat.

Karawang Timur Juga Lumpuh
Aksi warga Telukjambe Barat yang menolak eksekusi lahan seluas 350 hektare di tiga desanya berdampak pada kemacetan lalulintas di dalam kota Karawang. Pemblokiran tiga akses vital yakni Interchange Karawang Barat, Gerbang Tol Karawang Barat dan gerbang Tol Karawang Timur membuat ribuan kendaraan bermotor di dalam kota menumpuk.
Kasatlantas Polres Karawang AKP Rano Hadiyanto mengatakan, kemacetan terjadi karena aksi sweeping yang dilakukan oleh serikat buruh dan LSM. Sebelumnya sempat terjadi kericuhan saat Dalmas Polres Karawang mencoba membubarkan massa dengan menembakan gas air mata ke kerumunan warga yang dinilai warga mengganggu arus lalulintas.
Di tempat lain, aksi demonstrasi buruh yang berlangsung di pintu tol Karawang Timur membuat kendaraan yang hendak keluar masuk tol tersendat. Buruh melakukan pemblokiran di sepanjang jalan akses masuk menuju pintu tol. Andra, warga setempat mengatakan, dirinya terjebak macet dari jam 13:00 hingga pukul 15:00 saat hendak melintas daerah Klari. "Sekitar pukul 2 siang, saya melihat rombongan Brimob sedang membubarkan massa yang menutup jalan di lampu merah Klari, akhirnya saya terjebak selama dua jam," ujarnya.
Hal sama dialami Adi, seorang karyawan sebuah perusahaan leasing. Dia terjebak di lampu merah Klari saat hendak pulang dari tempat kerjanya dari arah Cikampek menuju Karawang. "Saya melihat ribuan anggota brimob sedang membubarkan aksi massa buruh yang demo, soalnya rame banget dan macet," terangnya.
Danton Dalmas Polres Karawang Aiptu Bahrudin membenarkan telah terjadi aksi massa di jalan Klari, namun telah dibubarkan oleh anggota Brimob dan Dalmas. "Anggota terpaksa menembakkan gas air mata, karena tindakan massa dinilai menganggu kepentingan umum," bebernya.
Meski demikian menurut Aiptu Bahrudin, sekitar pukul 16:00 suasana di lokasi sudah mulai cair massa sudah dapat dikendalikan. "Ya saat ini sudah mulai cair, insya Allah lalulintas dapat berjalan lancar kembali," pungkasnya. (ops)

Pencuri Motor Paling Apes Se-Telagasari

-Sikat Motor, TabSKn, Ditangkap Polisi

TELAGASARI, SK - Mungkin ini maling motor paling apes se-Telagasari. Pasalnya, setelah memetik sepeda motor, pelaku yang kabur malah terlibat kecelakaan tak jauh dari kantor Polsek Telagasari. Begitu diamankan, pelaku diketahui baru saja selesai mengeksekusi kendaraan roda dua milik pegawai Puskesmas Telagasari.
Yang menjadi korbannya adalah Ade Sunarya. Diakuinya, saat itu dirinya tengah sarapan ketoprak di Jalan Raya Wadas-Telagasari, tepatnya di pinggir ruas jalan Desa Cadaskertajaya. Seperti pagi biasanya, saat itu dirinya tengah menyantap ketoprak langganannya sebelum ngantor. Sementara sepeda motornya diparkir, sialnya, kunci motor dibiarkan tergantung di stang.
Tak lama berselang, datang dua orang yang tak dikenalnya dengan menggunakan sepeda motor Satria FU. Satu orang diantaranya, mengajak berbincang pedagang ketoprak tanpa ia ketahui isi pembicaraannya karena tengah asyik menikmati ketoprak. "Setiap pagi memang saya selalu sarapan ketoprak di sana," ujarnya.
Namun tak disangka, satu dari dua orang lelaki itu menyamber sepeda motor yang dibelinya setahun lalu dan membawanya kabur ke arah Telagasari. "Tadinya saya kira mereka yang datang dari arah Wadas itu mau sarapan juga seperti saya. tapi ternyata malah bawa kabur motor saya," ujarnya.
Sementara pelaku lain yang membawa motor FU, juga langsung tancap gas menuju arah Telagasari. Karena merasa motornya dicuri, ia langsung menghubungi anggota polisi untuk menjaga pelaku di Telagasari. Saat itu, anggota polisi yang ditelponnya tengah upacara apel pagi. "Saya juga tidak tahu pa yang terjadi di Telagasari," imbuhnya. Selain membawa sepeda motor Honda Beat bernomor polisi T 2740 LV, juga berhasil menggondol laptop, rekening berisi saldo sekitar Rp 7 juta dan LPJ administrasi kedinasan yang disimpan di motor.
Sementara di Telagasari, pelarian pencuri motor tersebut ternyata tidak mulus. Satu dari dua pelakunya, diketahui terlibat kecelakaan dengan pengguna jalan lainnya sekitar pukul 08.00. Tak jauh dari kantor Polsek Telagasari. Anggota polisi pun mengamankan pengendara yang jatuh tersebut. Namun belakangan diketahui, pengendara yang jatuh diseruduk kendaraan lain itu ternyata pelaku pencurian sepeda motor milik PNS asal Desa Ciwaringin, Kecamatan Lemahabang Wadas. Pelaku ini, menggunakan sepeda motor Satria FU.
Sedangkan pelaku lainnya yang membawa sepeda motor Honda Beat milik Ade, langsung balik arah ke arah Wadas begitu mengetahui kawannya jatuh di dekat kantor polisi.
Kejadian ini, akhirnya menyita perhatian pengendara dan warga. Sampai akhirnya markas polsek dikerumuni massa yang ingin melihat pelaku yang teridentifikasi berasal dari Desa Tanjungjaya, Kecamatan Tempuran. Bahkan saat dievakuasi untuk diamankan menuju kantor Polres Karawang, pelaku curanmor bertato itu nyaris dipukuli masyaSKt yang kesal. Beruntung aparat polsek sigap.
Anggota Polsek Telagasari Bripka Iwan mengatakan, saat diinterogasi, pelaku yang mengantar pelaku utama ini mengaku berasal dari Desa Tanjungjaya, Kecamatan Tempuran. ia berulangkali hanya mengaku sebagai pengantar saja. Menurut Iwan, pelaku yang mencuri motor Beat itu kabarnya bernama Tatang asal Desa Darawolong, Kecamatan Purwasari. Tatang disebut-sebut juga berasal dari Banten. Namun dirinya belum bisa menyimpulkan karena pelaku yang tertangkap, pemeriksaannya langsung di Polres Karawang dengan alasan keamanan. "Beberapa personil polsek sedang bertugas di Karawang soal eksekusi tanah itu. Kita evakuasi pelaku ini ke polres demi keamanan," ujarnya.
Belakangan diketahui pula, sepeda motor yang dikendarai pencuri apes ini juga motor curian milik warga Perumahan Talagasari yang bernomor polisi B 6221 TTA yang hilang sebulan lalu. Anggota satpol PP Telagasari Wasam mengatakan, pelaku kepergok setelah terjatuh dari motor yang juga hasil curiannya sebulan lalu. Motor yang digunakan pelaku itu dikenali warga perumahan yang sudah lama hilang. Setelah dicocokkan, ternyata motor tersebut benar milik warga perumahan. Sementara motor yang baru dicuri pelaku yang berhasil melarikan diri itu berhasil digondol karena pelakuknya berhasil meloloskan diri.
Masih beruntung, pelaku yang terjatuh di Telagasari itu dikira masyaSKt kecelakaan, padahal pria berusia sekitar 25 tahun itu adalah pelaku curanmor. "Masih untung gak digebuki, itumah sasah saja mau nyoba balik arah terjatuh setelah diterobos kendaraan lainnya," katanya. (rud)

Jalan Raya Klari Lumpuh

- Ribuan Buruh Blokir Jalan

KLARI,SK- Buntut lambatnya penanganan masalah perburuhan di 14 perusahaan, ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja melakukan pemblokiran di Pertigaan Kosambi dan pintu Tol Karawang Timur, Kecamatan Klari, Selasa (24/6) kemarin. Aksi pemblokiran jalan yang dimulai sejak pukul 5 pagi tersebut, membuat aktifitas di jalan ini lumpuh. Antrean kendaraan mengular sampai hingga belasan kilometer.
Berdasarkan pantaun SK, buruh menghentikan dan mendudukan mobil besar yang sedang melintas di Pertigaan Kosambi. Akibatnya, antrean kendaraan dari arah Cikampek maupun Karawang terhenti dan tak bisa bergerak hingga belasan kilometer. Arus lalu lintas dari arah Curug pun tak bisa melintas, banyak pengguna jalan yang mencari jalan alternatif. Begitupun di depan pintu Tol Karawang Timur. Buruh melakukan aksi unjuk rasa dengan menutup akses menuju pintu tol. Buruh duduk santai dan sesekali melakukan orasi di lampu merah Karawang Timur ini. Hingga, kemarin siang, aksi pemblokiran jalan ini masih berlangsung.
Sekretaris PUK Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSPRTMM) Serikan Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Rudi Haryanto.  Rudi Haryanto mengatakan, aksi ini merupakan puncak kekesalan buruh terhadap penyelesaian masalah di PT Ultra Prima Abadi (UPA) yang belum ada penyelesaian sampai hampir tiga bulan ini. Meskipun Bupati Karawang H Ade Swara sempat datang ke perusahaan tapi tak mampu menyelesaikan masalah. "Kami melakukan pemblokiran dari pukul lima pagi dan sampai waktu yang belum ditentukan sampai ada respon dari perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini," katanya saat ditemui SK di Pertigaan Kosambi.
Diteruskannya, ada 1600 karyawan PT UPA yang diberhentikan oleh perusahaan secara sepihak karena dianggap mengundurkan diri ketika melakukan unjuk rasa. "Kami meminta agar buruh yang dikeluarkan diperkerjakan kembali. Tapi, kalau memang harus di PHK, kami minta agar sesuai dengan aturan, hak-hak buruh dipenuhi sesuai dengan undang-undang yang berlaku," tegasnya.
Rudi menambahkan, aksi ini tidak hanya diikuti oleh buruh PT UPA, tapi juga buruh dari perusahaan lain. Menurutnya, ada 14 perusahaan yang saat ini sedang bermasalah. Jika masalah di 14 perusahaan tersebut belum selesai, pihaknya akan terus melakukan unjuk rasa. "Dari pagi sampai sekarang (siang,red) belum ada kontak apapun dari perusahaan. Kami akan terus menunggu, melakukan aksi sampai ada itikad baik dari perusahaan untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing dengan buruh," tuntutnya.
Dalam surat terbuka buruh dalam aksi ini, mereka mendesa kepada Bupati Karawang untuk memerintahkan kepada seluruh perusahaan-perusahaan pelaku pelanggar Undang-undang (UU) Ketenagakerjaan di Karawang, dalam tenggang waktu 3x24 jam untuk mempekerjakan kembali buruh yang di PHK tanpa ijin pengadilan.
Atau apabila perusahan-perusahaan pelaku pelanggar UU Ketenagakerjaan di Karawang tidak bersedia mempekerjakan kembali ribuan buruhnya yang di PHK tanpa ijin pengadilan, maka kepada seluruh anggota Aliansi Besar Karawang (ABK) beserta keluarganya dan buruh keseluruhan yang pasti suatu saat nanti akan di PHK, untuk mendatangi kawasan-kawasan industri dan pusat Pemerintahan Kabupaten Karawang, mendesak Bupati Karawang membekukan dan mengambil alih perusahaan-perusahaan pelaku pelanggar UU Ketenagakerjaan di Karawang.
Dengan adanya aksi penutupan jalan ini, jelas membuat aktifitas masyaSKt lumbuh. MasyaSKt pun mengaku terganggu dengan adanya aksi ini. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. "Jelang menganggu, banyangkan saja saya terjebak macet dari jam lima pagi sampai siang ini belum jalan juga. Saya berharap, pihak-pihak terkait segera menyelesaikan masalah ini, agar buruh tak mengulangi aksi seperti ini lagi," terang salah seorang pengguna Jalan Raya Klari, Faturahman (36), kemarin. (asy)

Selasa, 24 Juni 2014

Seer Bergeliat Lagi

-Belasan Bangunan Esek-esek Berdiri

KARAWANG, SK - Baru hitungan hari diratakan, gubuk prostitusi di sisi rel (seer) sudah kembali bergeliat. Tenda-tenda berwarna biru, bangku kayu, serta kamar reyot yang dibangun alakadarnya lengkap dengan wanita penghibur tetap terlihat seperti sediakala.
"Hasil patroli, ada sekitar 15 bangunan dan tempat eksekusi (kamar)," ujar Kabid Trantibum Sat Pol PP Karawang Basuki Racmat, di ruang kerjanya, Senin (23/6).
Ia mengaku, meski anggotanya sudah memberikan teguran agar tidak mendirikan bangunan, tapi peringatan tersebut tidak ditanggapi. "Kita sudah tegur tapi tidak digubris," katanya.
Menurut Basuki, seharusnya PT KAI selaku pemilik lahan bertindak tegas, tapi kenyataannya perusahaan perkeretaapian tersebut terkesan cuek. Padahal, pembongkaran bangunan mesum tersebut menelan anggaran sekitar Rp 48 juta. "Seharusnya setelah ditertibkan itu jagoannya yang punya lahan (PT KAI). Kita bantuin yang punya lahan, tapi malah tidak ada tindaklanjutnya. Kerja capek, capek hati," sesalnya.
Meski begitu, Basuki menegaskan penertiban akan kembali dilakukan. Sehingga selama bulan suci Ramadan tidak ada tempat prostitusi. "Saya mah konsekuen, itu harus dibongkar lagi," ujarnya.
Ditempat terpisah, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Karawang Gamal Abdul Nasser menyayangkan hal ini, menurutnya pemerintah maupun PT. KAI tidak serius memberangus hingga tuntas praktek prostitusi di Seer. "Itu mah lagu lama, saling tuding, karena kedua-duanya gak serius. Kalau memang mau dibersihkan, mereka harus mengawasi lahan itu," serunya.
Gamal berharap, selama bulan Ramadan nanti seluruh lokasi yang menjadi tempat praktek esek-esek ditutup total. Sehingga umat Islam dapat beribadah dengan khusyuk. "Di bulan puasa ga ada tempat maksiat, jadi harus sama-sama menghormati," tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan penelusuran SK, perempuan yang menjajakan makanan di kawasan Seer mencoba menawari perempuan. Namun lokasinya di gedung lingkungan Stasiun Karawang. "Mau ngamar gak? Kalau mau di gedung," imbuhnya sore itu.
Ia mengungkapkan, pasca pembongkaran gubuk Seer, aktivitas prostitusi masih ada walaupun harus kucing-kucingan dengan petugas. Meski begitu, mereka mengaku tetap nekat membuka praktek ketika bulan Ramadan. "Kucing-kucingan, biasa bulan puasa dirazia, tapi kalau malam buka," pungkas wania di sisi rel ini. (vid)

Pengamanan Eksekusi Tanah Berlebihan

KARAWANG, SK - Belasan ribu personel ditambah belasan kendaraan anti huru hara yang dikerahkan Kepolisian Resort Karawang, untuk mengamankan proses eksekusi tanah seluas 350 hektare di Kecamatan Telukjambe Barat, dinilai berlebihan.
Meski demikian, Kapolres Karawang AKBP Daddy Hartadi, melalui Kabag Ops Polres Karawang Kompol Imam Rahman, mengatakan, pengerahan personel tersebut merupakan bagian dari antisipasi keamanan dalam pelaksanaan eksekusi. "Total personel berjumlah 12 ribu lebih," ujar Imam Rahman kepada wartawan di Mapolres Karawang, usai apel siaga, Senin (23/6).
Diuraikannya, jumlah personel tersebut sebanyak 20 SSK (satuan setingkat kompi) berasal dari Brimob Mabes Polri, 15 SSK Brimob Polda Jabar, 3 SSK Dalmas Polda Jabar dan sisanya, 500 personel dari Dalmas Polres Karawang. Meski begitu, belum ada satu pun personel yang sudah diterjunkan ke lokasi. "Belum ada yang disiagakan di lokasi. Mereka baru akan dikirim ke lokasi saat hari pelaksanaan eksekusi. Rencananya besok (hari ini)," jelas Imam.
Kendati personel belum ditempatkan di lokasi eksekusi, pantauan SK,  ribuan personel berseragam Brimob dan Dalmas itu sudah disebar di berbagai lokasi. Sebagian diantara mereka ada yang ditempatkan di Gedung Olahraga (GOR) Adiarsa, Kantor Badan Pertanahan, Pengadilan Negeri (PN) Karawang, rest area KM 42 Tol Karawang, interchange Karawang Barat, kejaksaan dan komplek Perumahan Grand Taruma. Selain personel keamanan, polisi juga menurunkan berbagai kendaraan anti huru-hara. Seperti Baracuda 3 unit, AWC 7 unit dan water canon 8 unit. "Dalam hal ini kami hanya pengamanan," kata Imam Rahman, menutup pernyataannya.
Di tempat terpisah, Sekretaris PN Karawang Kasnoto mengatakan, pelaksanaan eksekusi tergantung situasi keamanan. Jika situasi tidak memungkinkan, tentunya pihak pengadilan bisa menunda pelaksanaan eksekusi tersebut. "Besok (hari ini), rencananya kita akan melakukan eksekusi di lahan yang disengketakan selama ini. Tetapi, pelaksanaannya tergantung situasi keamanan di lapangan. Kalau keamanannya kondusif kita laksanakan, tapi kalau sebaliknya ya terpaksa kita tunda," jelasnya.
Dikatakannya, pihak pengadilan sudah memberikan surat pemberitahuan pelaksanaan eksekusi pada Jumat (20/6) lalu, kepada para penggarap dan penghuni di lahan tersebut. "Mereka sudah tahu kalau hari Selasa, lahan tersebut akan dieksekusi," imbuhnya.
Perwakilan warga tiga desa Kecamatan Telukjambe Barat, Moris Moy Purba, mengatakan, warga tidak akan membiarkan begitu saja tanahnya dieksekusi. Pasalnya, selain tidak berlandaskan atas keadilan, lahan itu merupakan milik warga. "Warga akan mempertahankan tanahnya. Meski harus ada perlawanan, kita semua sudah siap," lanjutnya.
Berdasarkan pantauan SK, warga yang menolak eksekusi juga telah melakukan berbagai persiapan untuk menggagalkan eksekusi. Selain membuat blokade di pintu masuk desa, mereka juga menebang pohon dan melintangkannya di jalan. Sementara itu, sejumlah warga lainnya juga sudah mempersenjatai diri dengan senjata lainnya termasuk ketapel. (ops)

Rabu, 18 Juni 2014

Mayat Pria tak Dikenal Nyangkut di Sungai

- DiperkiSKn Sudah Meninggal Tujuh Hari yang Lalu

JATISARI, SK - Warga Dusun Krajan II, RT 03, RW 03, digegerkan penemuan mayat yang tersangkut dipinggir Sungai Cihareng. Mayat lelaki yang tidak dikenal itu ditemukan tidak menggunakan pakaian dengan kondisi tubuh yang sudah membusuk.
Mayat tersebut ditemukan bermula salah seorang warga Dusun Krajan II, RT 03, RW 03, Desa Kalijati, Kecamatan Jatisari, Satum (45) yang hendak membuang sampah, namun dipinggiran sungai dia melihat seperti boneka yang berukuran besar. Karena merasa penasaran, akhirnya dia memanggil temannya, Carman (40), yang juga warga setempat untuk memeriksa barang yang diduga boneka besar itu. Namun saat di periksa oleh Carman, barang yang diduga boneka berukuran besar tersebut ternyata mayat seorang pria botak yang tidak menggunakan pakaian dan dalam kondisi tubuh yang sudah busuk.
Kapolsek Jatisari Kompol Bastian, melalui  Kanit Reskrim AKP Adi Fauzi saat dimintai keterangan terkait penemuan mayat tersebit menyampaikan, korban mayat tidak dikenal dengan jenis kelamin laki-laki, tinggi 160 sentimeter, tidak menggunakan pakaian, rambut gundul itu diduga sudah 7 hari tersangkut pohon bambu dipinggir Sungai Cihareng. "Yang melihat pertama kali mayat tersebut adalah bapak Satum bin Amir, warga Dusun Krajan II RT 03, RW 03, Desa Kalijati, Kecamatan Jatisari yang berusia  45 tahun dan berprofesi sebagai petani saat membuang sampah," ujarnya.
Kemudian dia menambahkan, saksi keduanya adalah Carman (40), warga setempat juga. Kejadian tepatnya Selasa (17/6) kemarin sekitar pukul 11.45 WIB. "Kemudian kedua saksi melaporkan ke aparat desa dan Polsek Jatisari. Setelah mendapat laporan kami langsung turun ke TKP," ujarnya.
Pengecekan ke TKP tersebut juga melibatkan petugas identifikasi dari Polres Karawang  untuk melakukan pisum dan otopsi. "Visum dan otopsi dilakukan di RSUD Karawang. Untuk hasilnya sendiri kemungkinan baru bisa diketahui nanti malam," ujarnya.
Dia mengaku proses evakuasi cukup lama, karena kondisi mayat yang sudah membusuk, membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk bisa mengangkat mayat tersebut. "Proses evakuasi juga dibantu oleh masyaSKt," ucapnya.
Untuk mengetahui identitas mayat, pihak kepolisian saat ini sudah memerintahkan kepada Babikamtibmas untuk mengecek warga mana yang  kehilangan anggota keluarganya. "Mudah-mudahan bisa segera diketahui," ujarnya. (zie)

CIRI-CIRI
- Laki-laki
- Tinggi 160 sentimeter
- Tidak menggunakan pakaian
- Kepala gundul

Selasa, 17 Juni 2014

Arisan Berantai Marak Lagi

Ingin cepat kaya dalam waktu singkat tanpa bekerja keras, membuat banyak masyaSKt Karawang gampang diiming-imingi dengan beragam bisnis menggiurkan. MasyaSKt perlu hati-hati dan waspada terhadap semua ajakan investasi yang menjanjikan keuntungan selangit dalam waktu singkat. Biasanya janji janji surga semacam ini hanya kedok untuk menipu dan mengumpulkan dana masyaSKt secara ilegal.
Mulai dari multi level marketing, investasi emas, koperasi, hingga yang terbaru adalah arisan berantai atau skema piramid dimana si investor yang berhasil memasukkan investor baru akan mendapat dividen dan juga komisi.

Berbicara arisan berantai, berdasarkan penelusuran SK di lapangan, saat ini yang paling hangat dibicaSKn adalah MMM (Mavrodi Mondial MoneyBox), sebuah peluang bisnis hasil kreasi seseorang bernama Sergey Mavrodi asal Rusia. Belakangan, sudah banyak manajer-manajer MMM lokal yang juga aktif menjaring member baru masuk MMM, termasuk di Karawang. Keuntungan yang dijanjikannya pun sangat fantastis. Yaitu 30 persen dari nilai investasi. "Keuntungannya lumayan. Saya menanamkan uang sebanyak Rp 1 juta, katanya akan balik modal tiga bulan berikutnya. Itupun kalau saya tidak mendapatkan member baru," ujar Lia (32) yang mengaku baru ikut MMM sebulan kemarin kepada SK, Senin (16/6).
Ia mengaku, MMM bukanlah investasi namun merupakan money game. Artinya, ketika ingin menjadi member MMM, dirinya harus mentransfer ke member lain yang diacak terlebih dahulu oleh sistem. Setelah itu, bukti transferan dikirim ke website MMM. "Saya waktu itu mentransfer ke member lain. Sekarang tinggal tunggu keuntungannya," katanya.
Ia melanjutkan, beberapa teman satu kantornya juga ikut dalam investasi ini. Bahkan ada yang sudah mendapatkan keuntungan lebih. "Teman saya yang bekerja di perusahaan forex sudah balik modal," ujarnya.
Ketika SK menelusuri lebih lanjut, ternyata nomor telepon yang tercantung dalam website MMMindonesia.com, dalam keadaan tidak aktif.
Diketahui, beberapa kasus penipuan berkedok investasi marak terjadi di Karawang. Beberapa waktu lalu, selain Koperasi Arridho di Cikampek, kasus serupa berbendera PT Wong Limo (WL) yang kantor pusatnya di Bandung juga menipu ribuan orang dengan jumlah kerugian mencapai miliaran rupiah. Menurut seorang korbannya, Tri Adi Putra, hampir seluruh anggota keluarganya menjadi korban penipuan perusahaan tersebut. Mereka menginvestasikan uang sebesar Rp 200 juta karena tergiur mendapat keuntungan berlipat. Ia menuturkan, saat PT WL melakukan launching di sebuah rumah makan di bilangan interchange tol Karawang Barat, perusahaan tersebut menjanjikan keuntungan kepada nasabahnya sebesar 100 persen per bulan.
Bahkan kala itu pengelola PT WL langsung membagikan keuntungan kepada nasabahnya yang didatangkan dari Serang dan Tangerang berupa emas, mobil, sepeda motor, serta rumah. "Hal tersebut kontan membuat kami tergiur. Apalagi mereka menjanjikan fee sebesar Rp 1 juta bagi nasabah yang mampu membawa satu nasabah lain," ujar Tri.
Tri mulai menyetor uang ke PT WL pada Mei 2012 dengan harapan, bulan berikutnya keuntungan sebesar 100 persen dari uang yang disetor bisa dinikmatinya. Namun ketika bulan Juni 2012, ia mendatangi kantor perusahaan tersebut di Jalan Wirasaba untuk meminta bonus yang dijanjikan, kantor tersebut sudah tutup.
Semula dirinya mengira kantor itu hanya tutup sementara, namun setelah ditunggu berbulan-bulan kantor tersebut tidak pernah buka lagi. "Dari informasi yang saya terima, korban penipuan PT WL bukan hanya keluarga kami. Konon di Karawang saja korbannya ada ribuan orang," imbuhnya. (psn)