English French Spain Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Rabu, 18 Juni 2014

Disdikpora Kembali Cetak 30 Polisi Siswa

*Peserta Pelatihan Pelajar Terlibat Tawuran

TEGALWARU, SK - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) kembali menggembleng 30 calon polisi siswa dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay ini sebagai upaya antisipasi terhadap kenakalan pelajar seperti tawuran dan bolos sekolah.

"Kegiatan ini digelar setiap tahun dan merupakan yang ke tiga. Perlu diketahui program ini juga merupakan bagian dari upaya mengantisipasi kenakalan remaja yang banyak dilakukan pelajar di tingkat menengah kejuruan, terutama masalah tawuran dan siswa bolos sekolah," ucap Hendrik Hermansyah, penggagas polisi siSwa ini, kemarin.
Dijelaskan Hendrik, kegiatan yang dilakukan di Bumi Perkemahan Cilalay itu mendapat dukungan pemerintahan karawang melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpopra). Selain melibatkan Satuan Tugas Pelajar (Satgas Pelajar) untuk membentuk Polisi siswa. "Peserta didiknya berasal dari siswa berbagai sekolah yang sering terlibat tawuran dan kenakalan remaja lainnya," jelasnya.
Dijelaskan, para polisi Siswa ini digembleng baik fisik maupun mentalnya. Hingga dari yang awalnya loyo dan tidak disiplin menjadi semangat dan memiliki disiplin yang baik. Sementara peranan polisi siswa ini nantinya akan diarahkan untuk menjaga keamanan sekolah guna menghindari terjadi tawuran atau kenakalan pelajar. Sementara sistem kerja mereka bersifat simulator.
Artinya polisi dan dinas pendidikan mengikat mereka menjadi satgas pelajar untuk memotivasi temannya agar dapat menghindari bahkan menjauhi tawuran dan narkoba.
"Para Polisi Siswa ini bukan penindak pelajar yang tawuran, tapi lebih kepada tindakan pencegahan. Karena dengan lantar belakang dari berbagai SMK ini mereka bisa saling mengenal dan dapat mengendalikan," jelas Hendrik. Kalau memang teman-temannya masih tetap tidak bisa di cegah, lanjut Hendrik, maka polisi siswa ini disarankan meminta bantuan atau melapor kepada guru Bimbingan Konseling (BK) atau guru Bimbingan Penyuluhan (BP) jika tidak langsung kepada Kepala Sekolah dan polisi.
Untuk itulah rekrutmen Polisi Siswa ini adalah para pelajar yang bermasalah di sekolahnya, bukan pengurus Osis, Pramuka atau pengurus ekstrakulikuler yang nota bene merupakan siswa aktif dalam kegiatan positif. Kalaupun memang sampai saat ini masih ada yang salah kirim, tapi itu hanya sebagian kecil saja.
Secara terpisah, Melky (16) peserta Pendidikan berkarakter dari SMK GJ saat ditanya tentang berapa kali mengalami malas sekolah. Siswa ini menjawab, saking banyaknya dirinya sampai tidak ingat. Tetapi setelah mengikuti penggemblengan ini dirinya berjanji akan terus sekolah dan semangat untuk belajar. "Dipelatihan ini saya merasa apa yang saya lakukan merasa berdosa pada orang tuanya," ucap Melky seraya mengaku pernah tidak masuk sekolah hingga berbulan-bulan.
Sementara Tio Supriatna pelajar kelas X yang merupakan orang Tegalwaru namun bersekolah di SMK TJS sudah ingin pulang sejak hari pertama. Setelah terbuka dan mengungkapkan selain pernah terlibat tawuran juga sudah mengenal Narkoba sejak duduk dibangku SMP, hingga badannya cepat merasa cape dan lemas. Namun pengakuannya sejak masuk di SMK sudah jarang melakukan, terutama setelah mengikuti proses pendidikan berkarakter tidak akan lagi untuk mencoba, hingga keinginan untuk pulangpun tidak ada. Bahkan dia berjanji akan mengajak tema-temannya tidak lagi melakukan tawuran, apalagi narkoba. Harapannya semuanya keingiannya didukung oleh semua lapisan masyaSKt (keluarga) terutama pihak sekolah dan penegak aturan. (ark)


Cerita lainnya :